Rab. Sep 9th, 2026
Istri Andi Riyanto atau Bu RT saat menyerahkan artefak koleksi suaminya kepada Kepala Museum Balumbung, Irwan Rakhday, Sabtu (28/8/2026) pagi di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo,Jawa Timur. (foto: pgs/suarabalumbung.com)

suarabalumbung.com, Situbondo_ – Puluhan artefak koleksi Andi Riyanto, Ketua RT 02 RW 07 , Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur dihibahkan ke Yayasan Museum Balumbung Situbondo yang menaungi Museum Balumbung di Desa/Kecamatan Asembagus pada Jumat (28/8/2026).

Bu RT atau istri Andi Riyanto yang menemui Irwan Rakhday, edukator Museum Balumbung mengatakan jika artefak-artefak tersebut umumnya ditemukan di perbukitan bagian selatan Kabupaten Situbondo.

“Ada sejumlah wadah tempayan dari tanah liat, gelang perunggu, senjata tradisional berupa kudik, mata tombak berbagai variasi dan ukuran dari besi,” terang Bu RT.

Selain itu, imbuhnya, ada temuan dari zaman klasik berupa fragmen piring dengan corak putih biru beserta fragmen pipisan, yang diserahkan cuma-cuma pada pihak museum.

Irwan Rakhday yang juga merupakan kepala Museum Balumbung menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepedulian masyarakat kolektor yang dengan sukarela memberikan barang bernilai sejarah itu sebagai bahan edukasi serta mendukung upaya pelestarian cagar budaya.

“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Andi Riyanto sekeluarga. Ini bukti bahwa masyarakat Situbondo masih peduli dengan sejarahnya sendiri,” kata Irwan saat menerima hibah di Museum Balumbung.

Bahkan, kata Irwan, pihak penghibah bukan hanya sekedar menyelamatkan kebendaannya, tapi jauh lebih bermakna yakni menyelamatkan nilai-nilai pentingnya.

Irwan menjelaskan, berdasarkan ciri fisiknya, sebagian besar artefak masuk kategori bekal kubur dari  Zaman Logam. Ciri utamanya adalah adanya tempayan kubur, perhiasan perunggu, dan senjata dari besi yang biasa diletakkan bersama jenazah.

“Tempayan ini kemungkinan besar fungsinya sebagai wadah bekal kubur. Gelang perunggu dan mata tombak besi juga sering ditemukan di situs-situs prasejarah di pesisir timur Jawa,” jelasnya.

Ia menambahkan, adanya fragmen keramik putih biru dan pipisan menunjukkan adanya kesinambungan hunian hingga masa klasik. Temuan itu akan memperkaya narasi Museum Balumbung tentang kebudayaan di Situbondo.

“Yang paling penting bukan semata nilai bendanya, tapi nilai informasinya. Dengan koleksi ini, anak-anak sekolah bisa langsung melihat dan belajar bahwa di tanah Situbondo pernah ada peradaban maju sejak ribuan tahun lalu,” ujar Irwan.

Ke depan, seluruh artefak hibah tersebut akan melalui proses pencatatan, pembersihan, dan konservasi sebelum dipamerkan di ruang pamer tetap Museum Balumbung. Museum juga berencana membuat katalog digital agar masyarakat luas bisa mengakses informasi koleksi baru ini.

“Kami berharap ini jadi pemantik. Kalau ada warga lain yang punya temuan serupa di ladang atau saat menggali, jangan dijual di pasar gelap , silakan serahkan ke museum untuk kita rawat bersama, kami bantu registrasi ke dinas terkait. Bisa berstatus titip.  Jika ditransaksikan secara legal, juga bisa, tergantung urgensinya,” pungkas Irwan.

Hingga saat ini Museum Balumbung telah mengoleksi lebih dari 1000 artefak, mulai dari masa prasejarah hingga klasik, namun belum maksimal dilakukan kurasi sehingga tercatat hanya puluhan yang memiliki data signifikan.(*pgs)

 

Pewarta: Pika Gustina Sari

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *