
suarabalumbung.com, Situbondo -Sabtu (8/7/2026) Pendopo Murtajaya di Desa Juglangan, Kecamatan Kapongan dipenuhi aroma santan gurih dan asap tungku. Sebanyak 50 orang dari pegiat literasi, komunitas, mahasiswa, guru, pustakawan, masyarakat umum, hingga tim survei lapangan Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI hadir dalam acara launching dan diskusi buku “Nase’ Sodu: Warisan Kuliner dan Identitas Budaya Situbondo”.
Rangkaian acara dibuka dengan penampilan Jefri Bagus, dilanjutkan pembacaan selawat nariyah bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan deklamasi oleh Maha Mangkudilaga.
Sebelum diskusi, peserta diajak nonton bareng film pendek “Ngidam”. Film itu mengisahkan kehidupan rumah tangga, seorang istri hamil yang ngidam, dan suami yang serba salah karena lebih mementingkan pekerjaan dan main bersama teman.
Yang menarik, lewat semangkuk nasi sodu tokoh suami justru diajak kembali ke masa kecil. Ada adegan ibu memasak di dapur dengan tungku tradisional atau tomang, aroma masakan nenek, hingga adegan panci terbang yang membuat penonton tertawa. Pesan filmnya sederhana: keluarga adalah tempat pulang paling nyaman dan hidup harus seimbang.
Nasi Sodu, Dari Dapur ke Buku
Acara inti dimoderatori pegiat literasi dan seni, Wahyu Aves. Buku “Nase’ Sodu: Warisan Kuliner dan Identitas Budaya Situbondo” ditulis oleh Moh. Imron, Panakajaya Hidayatullah, Marlutfi Yoandinas, dan Jamilatul Hasanah.
Tiga narasumber dihadirkan. Marlutfi Yoandinas dari Badan Inovasi Percepatan Pembangunan Daerah, Fendi Febri Purnama guru sekaligus Ketua MGMP Bahasa Madura SMA, dan Agus Sodu pelestari sekaligus pemilik Pondok Dapur Sodu.
Wahyu Aves dalam pemaparannya menekankan pentingnya mengarsipkan pengetahuan lokal. “Saat ini makanan menjadi hot issue. Pengetahuan lokal sangat penting untuk diarsipkan. Karena kita masih sangat kekurangan arsip pengetahuan lokal,” ujarnya.
Ia menyebut budaya kuliner adalah warisan leluhur yang diturunkan turun-temurun. Menurutnya, arsip pengetahuan lokal butuh dukungan regulasi seperti UU Pemajuan Kebudayaan. Ia juga menyoroti bahwa selama ini banyak potensi daerah yang hanya diketahui “enak”, tapi tidak bisa dijelaskan secara rinci. Karena itu, perlu ada upaya mengalihwahanakan menjadi lagu, puisi, dan buku. Ia mencontohkan taker dari daun pisang sebagai bentuk seni mengemas makanan.
Lebih lanjut, Wahyu Aves menjelaskan bahwa pengajuan nasi sodu sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia akan disidang pada 18 Agustus 2026. Ada tiga syarat utama yang dipertimbangkan: objek masih eksis, ada maestro minimal usia 50 tahun, dan objek masih dimanfaatkan masyarakat. “Apabila objek sudah hilang dari memori kolektif, tidak lagi akses, maka akan dihapus dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Badan Pelestarian Kebudayaan,” katanya.
Makna, Resep, dan Inovasi
Fendi Febri Purnama menjelaskan arti kata nasi sodu. “Nase’ = nasi, sedangkan sodu yaitu mengarah pada cara menikmati atau menyantap nasi menggunakan sendok dari daun pisang yang dilipat dua,” jelasnya. Nasi itu disiram kuah pate kani atau santan kental dengan rasa gurih.
Sementara itu, Agus Sodu bercerita tentang upaya melestarikan resep leluhur sekaligus berinovasi. Dari survei di Jangkar dan Asembagus, ia mengadopsi resep terbaik. Tantangannya adalah meminimalisir kolesterol dari santan.
“Setelah melewati riset, saya memilih resep kembali ke zaman dulu yaitu tanpa micin. Di mana masakan sudah terasa gurih, meski tanpa MSG,” ungkapnya. Ia juga menerapkan teknik memasak santan yang tidak sampai pecah agar lemak jenuh berubah menjadi lemak tak jenuh. Ciri khas nasi sodunya terlihat dari warna kuah yang lebih pucat karena tidak memakai kunyit.
Marlutfi menambahkan bahwa pakem kuah nasi sodu adalah palappa ghenna’ atau bumbu lengkap. Yang membedakan hanyalah takaran masing-masing bumbu. Ia juga menyebut adanya bahan alternatif sesuai siklus alam sebagai cara masyarakat agar nasi sodu tetap bisa diproduksi setiap hari. Hingga kini, nasi sodu masih dipertahankan dalam acara panyambhelli, arisan, hingga tahlilan. “Nasi sodu bukan hanya sekadar makanan yang memuaskan lidah dan perut. Nasi sodu sebagai pelengkap kehidupan,” tambahnya.
Sesi Makan Bersama
Acara ditutup dengan sesi menyantap nasi sodu dari Pondok Dapur Sodu. Sebelum makan, Agus Sodu menjelaskan komponen seporsi nasi sodu dan cara penyajiannya menggunakan taker daun pisang atau piring beralas daun.
Yang menarik perhatian peserta adalah wadah nasi berupa palasa, anyaman bambu bulat besar. Untuk ukuran lebih besar berbentuk kotak disebut budhek. Kuah disajikan terpisah dalam kuali tanah liat agar ikan dan labu kuning tidak hancur.
Cengi disajikan di atas cobek tanah liat dengan sambal, irisan mentimun berkulit, dan kecambah pendek yang dipisah. Ada juga taburan bawang merah goreng dan kerupuk sebagai pelengkap. Banyak peserta sampai menambah porsi kedua.
Pondok Dapur Sodu juga membawa produk turunan seperti sirup asam dan kopi rempah bubuk bermerek “Sang Surya” yang dipajang dan dijual di lokasi.
Dengan launching buku ini, nasi sodu tidak hanya ingin mengenyangkan, tetapi juga ingin tercatat sebagai identitas budaya Situbondo yang dijaga dan diwariskan.(*ikr)
Pewarta: Irwan Rakhday
