Sel. Apr 14th, 2026

Situbondo – Malam turun perlahan di Pendopo Rakyat Situbondo, membawa sejuk angin Desember yang berbaur dengan riuh langkah anak muda, pelajar, dan seniman. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Malam Penyerahan Hadiah Lomba Cipta Lagu Situbondoan (LCLS), Lomba Cipta Puisi Situbondoan (LCPS), dan Lomba Film Pendek Artificial Intelligent (LFPAI) menjelma menjadi perayaan kreativitas—panggung tempat semangat generasi muda menyalakan harapan baru bagi seni Situbondo, pada Kamis malam, 11 Desember 2025.

Dewan Kesenian Situbondo (DKS) membuka acara dengan tari Ajham Sapsap, hentakan lembut yang seakan mengundang tamu memasuki dunia tradisi dan imajinasi. Dari baris depan, Bupati Situbondo, Mas Rio, menyaksikan pertunjukan itu dengan mata berbinar—seakan merayakan kejutan indah yang jarang hadir di panggung-panggung formal.

“Saya tidak menyangka kegiatan ini bisa semegah ini,” ucapnya saat naik ke podium. Suaranya menggema, membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar pujian. Ia berbicara tentang Situbondo—tentang sebagian masyarakat yang belum merasa sepenuhnya menjadi bagian dari tanah ini, tentang Panarukan sebagai jembatan kebudayaan yang menyatukan barat, tengah, dan timur. “Saya ingin para juara bisa dikembangkan dan ditindaklanjuti. Semoga acara ini menjadi cikal bakal kegiatan yang lebih besar lagi.”

Di sisi ruangan, Ketua Dewan Kesenian Situbondo, Edy Supriono, mengangkat makna rangkaian lomba bertema situbondoan. Baginya, malam ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum Situbondo untuk “naik kelas”. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini sudah lama dirindukan berupa ruang yang memberi panggung bagi anak muda juga seniman untuk berkarya dan dikenal luas.

Ketika jarum jam mendekati pukul 20.00 WIB, satu per satu nama juara dipanggil. Mereka melangkah naik ke panggung dengan campuran gugup dan bangga, disambut sorak hangat dari hadirin. Kamera berkilat, piala dan sertifikat berpindah tangan. Bagi para juara pertama, piala Bupati menjadi simbol: karya mereka tak hanya diapresiasi, tetapi juga diharapkan tumbuh lebih jauh.

Di tengah kerumunan, guru pendamping dan keluarga sibuk mengabadikan momen, seakan tak ingin melewatkan satu detik pun dari malam penuh rasa itu. Suasana pendopo terasa hidup—bukan hanya oleh tepuk tangan, tetapi oleh kebersamaan yang jarang terkumpul dalam satu ruangan.

DKS menggantungkan harapan besar pada malam itu. Harapan bahwa semakin banyak generasi muda akan terdorong mencipta, memperkuat ekosistem kreatif, dan mengibarkan nama Situbondo lebih tinggi dalam peta seni dan budaya.

Dan ketika malam akhirnya merapat pada sunyinya, satu hal terasa pasti: Situbondo tak pernah miskin talenta. Yang ia butuhkan hanyalah panggung, perhatian, dan keyakinan bahwa kreativitas anak muda selalu punya cara untuk tetap berkarya.

By redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *