Situbondo, suarabalumbung com-Di timur alun-alun Situbondo, Jawa Timur terbentang jeruji besi yang terawat, sebuah bangunan yang menyimpan sejarah panjang. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Situbondo, yang saat ini dipimpin oleh Suwono, menjadi saksi bisu perjalanan waktu yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Bangunan ini, dengan arsitektur kolonial yang masih terjaga, menjadi bukti nyata dari perjalanan sejarah bangsa.
Suwono, yang akrab disapa Wono, mantan Kalapas (Kepala Lembaga Pemasyarakatan Masyarakat ) Kelas III, Sorong, Papua Barat dengan bangga menunjukkan bangunan yang diyakini dibangun sebelum kemerdekaan ini.
“Ini bangunan lama mas, mungkin jaman sebelum kemerdekaan,” ujarnya dengan senyum, Selasa (15/12/2025). Tiang-tiang penyangga yang masih terbuat dari kayu balok, pintu besi di setiap sekat, dan jendela yang terbuat dari besi plat baja, menjadi saksi bisu perjalanan waktu yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Kepala Satuan Pengamanan Rutan, Dedy Saputro, juga menyampaikan kekagumannya terhadap bangunan ini.
“Jika itu menjadi sebuah bangunan bersejarah yang ditetapkan secara resmi, ini menjadi sebuah kebanggaan bagi kami,” ungkapnya.
Saat suarabalumbung.com memasuki dalam lembaga pemasyarakatan ini, kesan rumah tahanan yang terkesan horor menjadi sirna. Setiap ruang terlihat bersih, dengan fasilitas ruang keagamaan, aula yang cukup besar, dan ruang bengkel kerja yang sibuk dengan kegiatan warga binaan. Kamar mandi yang bersih dan terawat, menjadi bukti bahwa bangunan ini tidak hanya menjadi tempat penitipan, tetapi juga tempat pembinaan.
Warga binaan yang terlihat sibuk membuat karya mebel, memperbaiki beberapa titik bangunan, dan menikmati gazebo yang rindang, menjadi bukti bahwa kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan ini tidak hanya monoton. Bangunan ini, yang menyimpan sejarah panjang, menjadi tempat pembinaan dan pendidikan bagi warga binaan.
Harapan ke depan, penetapan bangunan ini sebagai bangunan cagar budaya menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat Situbondo. Bangunan ini tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga menjadi bukti bahwa kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan dapat menjadi lebih baik dengan pembinaan dan pendidikan yang tepat. (ah)
