Sel. Okt 27th, 2026
Salah seorang warga setempat saat memikul galon air. (Foto: Asri Hadianto)

suarabalumbung.com, Situbondo – Jalan setapak berbatu dan menanjak itu setiap hari dilalui warga dengan memikul jeriken. Panas menyengat, kaki telanjang menjejak kerikil, napas tersengal. Sekitar 150 meter mereka berjalan turun, lalu nanti harus memanjat lagi dengan beban air di pundak. Begitulah rutinitas yang sudah berlangsung selama 24 tahun.

Di Pedukuhan Taman Rante dan Taman Baru, Desa Kedunglo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, sekitar 14 kepala keluarga warga pesanggem masih hidup tanpa akses air bersih yang layak. Sumber kehidupan mereka hanya satu, sebuah mata air alami yang tersembunyi di bawah tebing, sekitar 30 meter lebih rendah dari tempat tinggal mereka.

Kondisi pilu ini terungkap saat pegiat komunitas RBT Trail, Asri Hadiyanto, menyusuri kawasan tersebut dalam kegiatan RBT Trabas dan Baksos 2026 pada Ahad (4/10/2026) . Kegiatan yang awalnya dimaksudkan sebagai ajang kebersamaan komunitas trail itu berubah menjadi perjumpaan yang menyentuh.

“Jalan yang kami lalui dengan motor trail, itu jalan yang sama dilalui ibu-ibu setiap hari untuk mengambil air,” kata Asri Hadiyanto dengan suara lirih. Ia menceritakan, betapa terjalnya medan yang harus ditempuh warga.

“Jalan setapak berbatu dan menanjak menjadi akses yang harus ditempuh warga untuk mendapatkan air bersih,” imbuhnya.

Menurut keterangan warga kepada Asri, mata air itu memang tidak pernah kering. Ia tetap mengalir sepanjang tahun, seolah setia menunggu. Namun kesetiaan alam itu belum mampu menjangkau permukiman. Air belum tersalurkan langsung ke rumah-rumah warga.

Tak hanya air, penderitaan warga bertambah karena mereka belum memiliki sarana mandi, cuci, dan kakus atau MCK sama sekali. Seorang tokoh masyarakat Desa Kedunglo yang ditemui di lokasi hanya bisa berharap ada yang mendengar.

‘Sudah 24 tahun kami di sini, Pak. Kami hanya ingin air bisa naik ke atas, ke rumah kami,” ucap Asri, menirukan curhatan warga pesanggem.

Asri mengatakan, warga tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap ada perhatian dan dukungan nyata dari pemerintah maupun pihak lain yang peduli terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Salah satu solusi yang diharapkan warga, lanjut Asri, adalah pembangunan sistem penyaluran air menggunakan pompa submersible bertenaga surya. Sistem ini diharapkan dilengkapi panel surya, tandon penampung, jaringan pipa, dan instalasi distribusi hingga ke permukiman warga.

“Yang jelas, penggunaan tenaga surya menjadi opsi yang perlu dikaji karena lokasi tempat tinggal warga disebut belum terjangkau jaringan listrik PLN,” tutur Asri.

Selain penyediaan air bersih, ia menambahkan, pembangunan sarana MCK juga menjadi kebutuhan mendesak yang diharapkan mendapat perhatian.

Bagi Asri, temuan ini bukan sekadar data lapangan. Kegiatan yang menyusuri jalur pedesaan ini tidak hanya menjadi ajang kebersamaan komunitas, tetapi juga membuka kesempatan untuk melihat lebih dekat kebutuhan warga di wilayah yang sulit dijangkau.

Hingga berita ini disusun, tanggapan resmi pemerintah terkait kondisi dan usulan bantuan tersebut belum diperoleh. Kualitas air dari mata air yang digunakan warga juga belum diketahui karena belum ada hasil pengujian laboratorium yang tersedia.

Namun bagi warga Pedukuhan Taman Rante dan Taman Beru, air bersih dan sanitasi yang layak bukan sekadar harapan, melainkan kebutuhan dasar untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

“Dukungan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat mendorong survei lapangan serta penyediaan solusi air bersih dan MCK yang aman, layak, dan berkelanjutan,” harap Asri menyuarakan warga pelosok. (*ik)

 

Pewarta: Irwan Rakhday

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *