Sel. Okt 27th, 2026

oleh: Irwan Rakhday

Fasad depan pintu kediaman Surowijoyo . (Foto: FB)

Sejarah lokal daerah Besuki dan Situbondo tidak bisa dilepaskan dari peran para pejabat pribumi yang mengabdi di era kolonial. Salah satu tokoh sentral yang menancapkan pengaruh kuat di wilayah timur Jawa Timur adalah Raden Ngabehi Atmodiwiryo. Beliau merupakan seorang birokrat ulung yang menorehkan tinta emas dalam sejarah tata kelola pemerintahan di Sumberwaru.

Akar Sejarah Sumberwaru: Dari Balumbung Hingga Kawedanan

Secara historis, Sumberwaru memiliki akar sejarah yang sangat tua. Jauh sebelum era kolonial, wilayah di barat Gunung Baluran ini diyakini sebagai bagian dari Kadipaten Balumbung, sebuah wilayah mancanegara atau perbatasan penting sejak zaman Kerajaan Majapahit yang kaya akan tinggalan arkeologis dan jalur perlintasan kuno.

Memasuki akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1893, dinamika di wilayah ini berubah drastis di bawah pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pemerintah kolonial saat itu gencar melakukan penataan administrasi wilayah atau restrukturisasi Bestuur untuk memperketat kontrol dan memaksimalkan potensi ekonomi di daerah Tapal Kuda. Jalur Trans-Jawa atau Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang lokasinya tidak jauh dari situ menjadikan kawasan Situbondo timur sebagai titik strategis pertahanan sekaligus gerbang ekonomi agraris.

Sumberwaru, yang namanya diambil dari keberadaan sumber-sumber mata air jernih di bawah pohon waru, dikembangkan menjadi pusat pemerintahan distrik baru bernama Kawedanan Sumberwaru. Kawedanan ini dibentuk untuk membawahi daerah-daerah di ujung timur Situbondo yang berbatasan langsung dengan Selat Bali dan kawasan hutan Baluran. Wilayah yang semula berupa hamparan pedesaan dan hutan ini disulap menjadi pusat birokrasi, lengkap dengan kantor kawedanan, pemukiman dinas, dan fasilitas publik guna mendukung roda perekonomian berbasis agraria.

Jabatan dan Peran Raden Ngabehi Atmodiwiryo

Pada tanggal 18 Oktober 1893, di tengah masifnya restrukturisasi wilayah tersebut, Raden Ngabehi Atmodiwiryo resmi diangkat dan memangku jabatan sebagai Wedana Sumberwaru. Jabatan Wedana pada masa itu merupakan posisi yang sangat bergengsi dan strategis. Sebagai kepala distrik, ia dituntut menjadi jembatan utama yang menghubungkan kebijakan pemerintah kolonial dengan kepentingan serta stabilitas sosial rakyat pribumi.

Di bawah kepemimpinannya, Kawedanan Sumberwaru mengalami penataan administrasi awal yang kokoh. Peran Raden Ngabehi Atmodiwiryo tidak hanya sebatas menjaga stabilitas keamanan di wilayah yang berbatasan dengan hutan belantara, tetapi juga memastikan sektor agraria dan kemasyarakatan berjalan dengan baik. Dedikasi dan wibawanya membuat nama Atmodiwiryo sangat dihormati baik oleh atasan kolonial maupun oleh masyarakat yang dipimpinnya.

Penataan awal inilah yang menjadi fondasi bagi berdirinya institusi-institusi penting di Sumberwaru, salah satunya Lembaga Kepenghuluan atau Kapengulon yang dipimpin oleh Kiai Haji Nahrawi atau Rama Pangolo.

Estafet Garis Keturunan: Sumodirjo

Semangat pengabdian dan keluhuran budi Raden Ngabehi Atmodiwiryo yang kemudian pensiun sebagai Asisten Kontroler sebelum tahun 1910 kemudian diwariskan kepada keturunannya. Garis silsilah ini berlanjut kepada putranya yang bernama Sumodirjo. Sebagai anak seorang Wedana, ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai kedisiplinan, tata krama, dan kepemimpinan. Melalui Sumodirjo, trah keluarga ini terus berkembang dan melahirkan generasi-generasi baru yang kelak memberikan kontribusi nyata di berbagai bidang.

Generasi Ketiga: Delapan Cucu Sang Wedana

Pohon keluarga Raden Ngabehi Atmodiwiryo semakin rimbun pada generasi berikutnya. Dari garis keturunannya, tercatat ada 8 orang cucu yang lahir dan tumbuh membawa nama besar keluarga. Para cucu ini berpencar dan menekuni takdir serta profesi yang beragam, merefleksikan dinamika perkembangan zaman pada awal abad ke-20.

Dalam makalah “Sejarah dan Budaya Kecamatan Asembagus” karya Moeh.Daroen 1984, ke-8 anak Sumodirjo yaitu: Raden Ayu Jamaliya, Raden Cokrodimulyo, Raden Sumodiwiryo, Raden Atmojodiwiryo, Raden Sentodiwiryo, Raden Ayu Marwiyah, Raden Sasmitodiwiryo dan Raden Ayu Maswiyah

Dari delapan cucu tersebut, perhatian khusus tertuju pada jalur keturunan Raden Ayu Maswiyah yang dinikahi oleh Raden Sorakerta dari Gadingan, Jangkar mengingat lokasi kediaman mereka. Mereka tinggal di area kantor Kawedanan Sumberwaru yang berada di Asembagus. Jika dicermati berdasarkan peta kolonial Hindia Belanda tahun 1915, keletakan gedung kantor kawedanan adalah di utara pertigaan masjid Asembagus atau di jalur Pantura.

Tirtowijoyo (duduk) , Joyosumarto (berdiri).

Kiprah Tiga Putra Raden Ayu Maswiyah

Raden Ayu Maswiyah melahirkan tiga putra yang masing-masing menorehkan prestasi luar biasa dan menjadi tokoh yang dikenal di masanya:

1. Raden Tirtowijoyo / Suyoto (Lahir 1908 – Wafat 1972)
Putra pertama ini memilih jalur yang sangat unik pada masanya, yaitu dunia olahraga. Raden Tirtowijoyo atau yang akrab disapa Suyoto dikenal luas sebagai seorang pembalap sepeda legendaris. Kecepatan dan ketangguhannya di atas pedal sering kali mengantarkannya merengkuh podium juara satu dalam berbagai perlombaan. Karena dominasinya yang sulit dikalahkan, ia mendapatkan julukan legendaris, yaitu Ke Tung.

2. Raden Surowijoyo
Berbeda dengan sang kakak, Raden Surowijoyo memilih untuk mendedikasikan hidupnya pada sektor bumi. Ia memfokuskan diri pada bidang pertanian dan peternakan. Di tangannya, pengelolaan lahan dan hewan ternak dikembangkan dengan tekun, menjadikannya salah satu pilar penggerak ekonomi ketahanan pangan di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.Beliau tidak memiliki keturunan hingga akhir hayat.

3. Raden Joyosumarto / Sumintoro
Putra ketiga ini mengabdi di dunia intelektual dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Raden Joyosumarto, yang juga dikenal sebagai Sumintoro, berstatus sebagai Kepala Sekolah Rakyat (SR). Menariknya, sekolah tempat ia bertugas terletak persis di samping kantor Kawedanan Sumberwaru, tempat kakek buyutnya dahulu bertakhta sebagai pemimpin wilayah. Dedikasinya di dunia pendidikan dasar menjadi lentera bagi anak-anak Sumberwaru untuk mengenyam ilmu.

Kisah Raden Ngabehi Atmodiwiryo hingga keturunannya di jalur Raden Ayu Maswiyah adalah potret nyata bagaimana sebuah keluarga priyayi mampu beradaptasi dan mewarnai sejarah. Dari ruang kerja Kawedanan Sumberwaru yang formal, trah ini melahirkan seorang juara balap sepeda Ke Tung yang dicintai pencinta olahraga, seorang ahli agraris yang memakmurkan bumi, hingga seorang guru yang mencerdaskan anak bangsa. Warisan mereka tetap hidup sebagai bagian dari sejarah lokal yang kaya nilai.(*ik)

—

Referensi:

1. Staatsblad Hindia Belanda No. 166 Tahun 1893 tentang Pembentukan Kawedanan Sumberwaru, Afdeling Panarukan, Karesidenan Besuki.

2. Almanak Prijaji / Regeerings Almanak van Nederlandsch-Indie, Tahun 1897 dan 1900, mencatat daftar Wedana di Besuki termasuk Wedana Sumberwaru Raden Ngabehi Atmodiwiryo.

3. Peta Topografi Kolonial Hindia Belanda Lembar Asembagus dan Sumberwaru, Tahun 1915 dan 1924, koleksi KITLV dan ANRI, menunjukkan letak Kantor Kawedanan Sumberwaru dan infrastruktur pendukungnya.

4. Makalah “Sejarah dan Kebudayaan Asembagus” Karya Moeh.Daroen tahun 1984.

5.Arsip Silsilah Keluarga Trah Atmodiwiryo – Sumodirjo – Raden Ayu Maswiyah, disimpan keluarga di Desa Asembagus.

6. Wawancara Irwan Rakhday dengan Keluarga Kauman Trigonco, Kecamatan Asembagus pada 2018-2016), terkait hubungan kelembagaan antara Wedana Sumberwaru dengan Pangolo / Penghulu Kiai Haji Nahrawi pada masa awal Kawedanan.

7. Sumber Sejarah Kadipaten Balumbung sebagai wilayah Mancanegara Majapahit, dirujuk dari Decawarnana dan kajian arkeologi Baluran – Situbondo.

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *