Sel. Okt 27th, 2026

Prof.Zudan Arif Fakhrullah.

suarabalumbung.com, Jakarta– Rumah Bonsai Indonesia (RUBI) genap berusia 9 tahun. Organisasi penghobi bonsai terbesar di tanah air yang didirikan pada 5 Oktober 2017 ini merayakan hari jadinya pada 5 Oktober 2017 – 5 Oktober 2026 dengan mengusung tema Sembilan Tahun Menumbuhkan Kebersamaan.

Presiden Rumah Bonsai Indonesia, Prof. Zudan Arif Fakrulloh, menegaskan komitmen RUBI untuk terus menjaga kebersamaan di kalangan pecinta bonsai.

“Sembilan tahun bersama, merawat semangat, menumbuhkan persaudaraan, dan memajukan seni bonsai Indonesia. Terus Berkarya Tanpa Batas. Berkreasi Tanpa Henti. Berhobi Harus Happy! Ayo RUBI kan Indonesia!!!” ujar Prof. Zudan.

Ia menyampaikan bahwa RUBI lahir dari kecintaan dan kegelisahan para pegiat bonsai yang membutuhkan sebuah rumah bersama. Jika diibaratkan seorang anak, pada usia awal RUBI masih seperti anak yang baru masuk Sekolah Dasar, namun telah memberi warna bagi perkembangan bonsai di Indonesia.

Menurut Prof. Zudan, RUBI tumbuh dengan filosofi yang berbeda. Bonsai tidak hanya dipandang sebagai hobi, tetapi juga sebagai gerakan ekonomi kreatif dan edukasi. Semboyan Berkarya tanpa batas, berkreasi tanpa henti masih terus dijaga hingga kini.

Perjalanan sembilan tahun RUBI terbilang fenomenal. Prof. Zudan menjelaskan, jika pada lima tahun pertama RUBI telah memiliki 72 cabang, maka di usia ke tujuh tahun telah berdiri lebih dari 100 cabang di seluruh Nusantara. Di tahun ke sembilan ini, jumlah cabang terus bertambah hingga ke pelosok daerah.

Ia mengatakan ekspansi tersebut tidak lepas dari konsistensi RUBI dalam menggelar pameran. Tercatat sejak berdiri, RUBI telah dua kali menggelar Pameran dan Kontes berskala nasional, yakni Festival Nusantara Satu di Jakarta pada 2017 dan Festival Nusantara Dua Piala Mendagri di Surabaya pada 25 November hingga 2 Desember 2018.

Setelah itu, festival demi festival tumbuh subur di berbagai daerah, mulai dari Lamongan, Kediri, Situbondo, Ponorogo, Kudus, hingga Solo Raya. Semua menjadi panggung RUBI untuk mengenalkan bonsai sebagai seni adiluhung.

Di sisi lain, Prof. Zudan terus mendorong generasi muda untuk mencintai bonsai. Ia menilai bonsai adalah aktivitas produktif yang bisa menjauhkan generasi muda dari bahaya narkoba.

“Kalau generasi muda kita sudah produktif, sibuk, pasti jauh dari masalah narkoba, psikotropika akan bisa kita hindarkan,” katanya.

Ia menambahkan, di bawah kepemimpinan RUBI, organisasi ini tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya penghobi, tetapi juga menjadi sekolah karakter yang mengajarkan kesabaran, ketelitian, keuletan, dan apresiasi terhadap proses. Ia mencontohkan bonsai Cianci miliknya yang bernilai miliaran rupiah merupakan hasil dari puluhan tahun kesabaran.

Memasuki usia ke-9, Prof. Zudan mengajak seluruh masyarakat untuk membumikan bonsai di setiap rumah dan setiap kota melalui tagline Ayo RUBI kan Indonesia.

Ia menegaskan bahwa sembilan tahun menumbuhkan kebersamaan adalah bukti bahwa hobi bisa menyatukan bangsa, dari Sabang sampai Merauke, dari berbagai latar belakang profesi, suku, dan usia, dalam satu bahasa, yakni cinta pada bonsai.(*ik)

Pewarta: Irwan Rakhday

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *