Dalam kebudayaan kita, bahwa guru bukan sekadar pengajar. Iya kan? Ia adalah digugu lan ditiru, sosok yang ucapannya dipercaya dan lakunya diteladani. Ilmu tidak datang sebagai hafalan kosong, melainkan sebagai laku hidup yang diwariskan dengan tata krama. Namun hari ini, nilai itu terasa kian merapuh. Di ruang-ruang kelas, adab yang dahulu dijunjung kini sering dianggap beban yang ketinggalan zaman.
Kita menyaksikan bagaimana sebagian siswa berbicara tanpa unggah-ungguh, memotong penjelasan guru, menyepelekan nasihat, bahkan menjadikan ruang belajar sebagai arena canda yang kehilangan batas. Ilmu diperlakukan seperti barang konsumsi cepat saji: diambil seperlunya, ditinggalkan tanpa rasa hormat. Guru pun tereduksi menjadi petugas kurikulum, bukan lagi figur yang dimuliakan.
Padahal dalam tradisi kita ilmu selalu ditautkan dengan adab. Sebelum pandai bicara, seseorang diajari cara diam; sebelum berani bertanya, ia dibimbing untuk tahu kapan harus menunduk. Hormat kepada guru bukanlah bentuk ketakutan, melainkan kesadaran bahwa ilmu tumbuh dari kerendahan hati. Di situlah nilai budaya bekerja: membentuk manusia yang tahu batas, tahu sikap, dan tahu tempat.
Pudarnya adab hari ini tidak bisa dilepaskan dari berubahnya pola hidup. Keluarga tak lagi sepenuhnya menjadi ruang penanaman tata krama, sementara media dan gawai membentuk bahasa baru yang serba cepat dan serba setara, tanpa hierarki nilai. Semua merasa sejajar, tetapi lupa bahwa dalam kebudayaan, kesejajaran tak pernah meniadakan etika.
Jika kondisi ini dibiarkan, sekolah akan kehilangan ruhnya sebagai ruang pewarisan nilai. Kita mungkin melahirkan generasi yang cakap secara teknis, namun rapuh secara kultural. Pintar berkata-kata, tetapi miskin laku. Padahal kebudayaan kita selalu menempatkan sikap sebagai cermin kecerdasan.
Sudah saatnya pendidikan kembali berpijak pada akar budaya: menghidupkan kembali adab, sopan santun, dan rasa hormat kepada ilmu serta guru. Sebab tanpa itu, kemajuan hanya akan menjadi gerak tanpa arah, dan ilmu akan kehilangan martabatnya sebagai penuntun kehidupan.
