Ada dua maling di negeri ini. Yang satu pakai helm, bawa celurit, nongol jam 1 malam di tikungan sepi. Yang satu lagi pakai dasi, bawa stempel, nongol jam 9 pagi di ruang rapat ber-AC.
Yang pertama kita sebut “begal”. Spanduknya merah menyala, hurufnya tebal: *“HATI-HATI! DAERAH RAWAN BEGAL”*. Dipasang di tiap tikungan, di bawah lampu jalan, lengkap dengan gambar tengkorak. Kita rem mendadak, doa keluar otomatis, dompet dipegang erat. Begal merampas HP, dompet, motor. Ruginya personal. Sakitnya langsung terasa di ulu hati.
Yang kedua kita sebut “koruptor”. Spanduknya? Entah. Mungkin warna krem biar kalem. Bunyinya: *“SILAKAN, DAERAH RAWAN KORUPSI”*. Tapi itu nggak pernah ada. Padahal kerjanya sama: merampas hak orang lain. Bedanya, begal nyopet 1 orang. Koruptor nyopet 1 kecamatan, 1 RSUD, 1 proyek jalan, 1 anggaran beasiswa. Dampaknya nggak “cepet-cepet” seperti jambret. Dampaknya pelan-pelan, tapi mematikan: jalan bolong tiap musim hujan, obat di puskesmas kosong, guru honorer gajinya telat, anak kita sekolah di kelas reot.
Ironisnya, yang bikin kita keringat dingin itu spanduk begal. Kita rela patungan pasang CCTV, bikin ronda, lapor polisi. Tapi kalau dengar “proyek fiktif 2 M”, kita cuma komentar “ya Allah” sambil scroll HP. Padahal 2 M itu artinya 20 ribu paket sembako yang nggak sampai ke nenek-nenek di Awar-awar. Itu artinya 50 ruang kelas yang nggak jadi dibangun. Itu artinya harapan ribuan orang yang dibegal halus, tanpa celurit, tanpa kabur naik motor.
Kenapa begal terkesan lebih berbahaya? Karena begal jujur. Dia nunjukin muka, nunjukin senjata. Korupsi tidak. Dia pakai PowerPoint, pakai istilah “efisiensi”, “kajian”, “study banding”. Korban begal bisa lapor ke polisi. Korban korupsi? Lapor ke siapa? Ke proyek yang mangkrak? Ke spanduk yang nggak pernah dipasang?
Mungkin kita perlu spanduk baru. Dipasang depan kantor, depan proyek, depan ruang sidang. Hurufnya lebih tebal dari spanduk begal. Bunyinya: *“PERINGATAN! ANDA MEMASUKI DAERAH RAWAN KORUPSI. SETIAP RUPIAH RAKYAT DIJAGA. JIKA BERANI MAIN-MAIN, SIAP-SIAP DIJAMRET HUKUM.”*
Karena kalau begal bikin kita takut kehilangan motor, korupsi bikin kita kehilangan masa depan. Dan masa depan, jelas lebih mahal dari motor.(*)