Hikayat Santri di Malam Hari
Seorang santri
diam di depan musala
menahan lapar dalam
perut yang menggema
di sela-sela zikirnya.
Malam memeluknya
dari belakang
dengan khusuk
untuk menaunginya
dari dingin yang
menusuk.
Tasbih di lengannya
memegang erat
tangannya yang
kasar tanda bahwa
seharian ini
telah khidmat di
dapur sang kyai.
Desir angin
berhembus di dadanya
mengabarkan rasa
rindu ibunya di kampung
halaman yang selalu
mendoakannya dalam
khidmat malam.
Jangkrik menemani
kesepiannya
agar ia paham
bahwa tak sepenuhnya
yang tak berakal
itu hanya fatamorgana
semata.
seorang santri di depan
musala sedang melatih
hatinya agar bisa
lebih tegap dari
tiang musala.
Purbalingga, 2025
Hikayat Penjual Batagor
Di malam
yang diberkahi hujan
ia merondai kampung
layaknya malaikat
yang menjenguk
hamba di seretiga malam.
Kecipak kakinya
melangkah di gang kecil
namun tabuh kakinya
terdengar hingga
penduduk langit terbangun.
Seorang ayah yang
berjualan bakso tahu goreng
agar dapur rumahnya
tetap bisa mengepul.
Tangannya amat
teguh mendorong
gerobak yang terbuat
kayu cokelat
secoklat warna
tanah yang ia pijak
lantaran digilas hujan.
Jalan kampung
yang tak seberapa
terasa begitu
panjang serupa jalan
hidupnya yang
tak tau dimana
ujung dari sebuah perjuangan.
Purbalingga, 2026
Hikayat Tukang Ojek
Roda ban
terus berputar
layaknya waktu
yang terus menggilas
masa kini
dan masa lalu dengan sesal.
Klakson
sesekali berbunyi
tanda bahwa setiap
yang menghalangi harus
disingkirkan
dengan sedikit
keterkejutan.
Suara notifikasi
di aplikasi
adalah kabar gembira
layaknya wahyu
yang diturunkan
pada nabi
sebagai pengharapan
akan kehidupan.
Senyumnya mekar
di ladang malam
yang sudah gelap
segelap noda
di jaketnya
yang dipakai
sejak subuh hari.
Ia bergegas
menjemput
penumpang dengan
kecepatan yang
tidak mungkin
ia lakukan
saat mengejar
waktu solat
berjamaah.
Purbalingga, 2026
Hikayat Pemain Ponsel
Tidak ada
Instagram yang bisa
memberikan kebahagiaan
seperti cinta ibu.
Namun kenapa
engkau masih
mengemis kebahagiaan
pada sebuah
aplikasi yang tidak
punya hati.
Setiap notifikasi
serupa bayang-bayang
yang menghantui hidupmu
dari tenang.
Tangan ponsel menggenggamu
lebih erat dari
pegangan tangan seorang
kekasih yang hendak
ditinggal suaminya selama
puluhan tahun di kota rantau.
Pesan dan panggilan
yang masuk hanya
serupa musafir yang
mampir dan singgah
di ponselmu kemudian
diusir oleh waktu
sebagai pengingat
bahwa di dunia ini
kata abadi hanya
milik Dia.
Purbalingga, 2026
Hikayat Usia Seorang Ayah
Usia mengubur setiap
angka dalam
kebijaksanaan
dan sesekali dalam
sesal.
Tangan keriputnya
sudah berkerut layaknya
motif batik yang
mengukir betapa
indahnya perjuangan seorang ayah.
Kerut matanya
serupa liukan dalam
hidup yang kadang sulit
ditebak.
Tidurnya yang teduh
mengajarkan pada
anaknya bahwa tidak
ada hiburan bagi
seorang ayah kecuali
lelap dalam pelukan
malam.
Usia saling berkejaran
dengan perjuangan
seorang anak yang
ingin memekarkan
bunga bahagia di hati
ayah lantaran
bangga melihat
keberhasilan anaknya.
Purbalingga, 2026

Yanuar Abdillah Setiadi: Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.
