
suarabalumbung.com, Situbondo – Yayasan Museum Balumbung Situbondo (YMBS) menyambut positif riset gabungan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) yang bekerja sama dengan École Française d’Extrême-Orient (EFEO) atau Sekolah Prancis untuk Timur Jauh. Penelitian bertajuk Institusi Keagamaan di Indonesia pada Periode Awal melalui Pendekatan Epigrafis dan Filologis ini menyasar sejumlah prasasti kuno di Kabupaten Situbondo, Rabu (8/7/2026).
Irwan Kurniadi atau yang lebih dikenal Irwan Rakhday, Ketua Pengurus YMBS mengatakan jika penelitian BRIN yang membawa pakar-pakar yang mumpuni di bidang arkeologi memang ditunggu untuk menguak data dari sumber primer khususnya dari zaman klasik Hindu-Budha di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
“Kami selaku pegiat kecagarbudayaan tentu berharap dedikasi BRIN dengan EFEO dalam penelitian ini dapat menghasilkan informasi otentik serta membuka misteri yang terkubur berabad-abad dari sebuah prasasti yang aus termakan usia,” ucap Irwan.
Terlebih, imbuh Irwan, secara pribadi itu akan menjawab rasa penasaran dirinya ketika pertama kali di tahun 1993 berkunjung ke salah satu prasasti yang masih insitu yakni Prasasti Widoro Pasar mengenai isi dari tinggalan arkeologis tersebut.
Sementara itu, Dr. Titi Surti Nastiti yang memimpin tim peneliti menyebutkan jika kegiatan penelitian itu dilakukan secara marathon pada sejumlah prasasti di Pulau Jawa.
“Tujuan utama kami mendokumentasikan prasasti secara digital. Dengan begitu datanya bisa diakses untuk penelitian, pelestarian, dan edukasi tanpa harus menyentuh fisik bendanya,” ujar Titi di sela kegiatan.
Tinjau 3 Lokasi di Asembagus, Banyuputih dan Banyuglugur
Tim melakukan tinjauan dan pemindaian di tiga titik. Lokasi pertama di Kecamatan Asembagus pada Prasasti Agel yang menjadi koleksi Museum Balumbung. Lokasi kedua di Banyuputih pada Prasasti Widoro Pasar. Lokasi ketiga di Kecamatan Banyuglugur berupa bejana batu lembu yang berinskripsi.
Dalam kesempatan ini Yayasan Museum Balumbung Situbondo turut melakukan pendampingan saat peninjauan lokasi penelitian.
Dr. Titi menjelaskan, salah satu fokus tim adalah prasasti yang hanya memuat angka tahun. Menurutnya, jenis prasasti ini jarang diteliti secara khusus.
“Selama ini banyak prasasti angka tahun hanya dipotret sekilas karena dianggap tidak punya narasi. Padahal dari situ kita bisa membaca sistem penanggalan, perpindahan kekuasaan, hingga jaringan pada masa itu,” katanya.
Gunakan Metode Fotogrametri 3D
Untuk dokumentasi, tim menggunakan metode fotogrametri. Teknologi ini menghasilkan dokumentasi digital tiga dimensi dengan tingkat ketelitian tinggi.
“Fotogrametri memungkinkan setiap detail prasasti, terutama goresan aksara yang sangat halus, direkam secara menyeluruh. Keunggulannya tidak menyentuh ataupun merusak benda cagar budaya,” jelas Dr. Titi.
Data digital tersebut nantinya akan dimasukkan ke dalam basis data nasional dan dapat dimanfaatkan untuk penelitian lanjutan, pelestarian, hingga edukasi mengenai sejarah dan kebudayaan Indonesia.
Tim Peneliti Lintas Lembaga
Penelitian ini melibatkan pakar dari BRIN dan EFEO. Selain Dr. Titi Surti Nastiti, tim terdiri dari Prof. Arlo Griffiths dari EFEO, Luh Suwita Utami, S.S., M.Si. dari BRIN, Hedwi Prihatmoko, M.Hum. dari BRIN, Eko Bastiawan, S.S. M.A. dari EFEO, dan Garin Dwiyanto Pharmasetiawan dari EFEO.
Dr. Titi menegaskan, kerja sama BRIN dan EFEO merupakan langkah strategis untuk penyelamatan data sejarah.
“Melalui digitalisasi ini, kami berharap masyarakat umum nantinya juga bisa mengakses informasi prasasti. Tidak hanya kalangan peneliti,” tutupnya.
Hasil pemindaian dan kajian dari Situbondo akan menjadi bagian dari proyek besar BRIN-EFEO tentang institusi keagamaan periode awal di Indonesia yang dimulai sejak 2022.(PGS)
Pewarta: Pika Gustina Sari
