Sab. Mei 30th, 2026

Mendadak hujan turun deras, gemuruhnya seperti letupan kesal, rintiknya menerpa atap, mencari celah di lubang kehilangan. Mestinya dini hari ini terasa sunyi, sesekali hanya terdengar suara kambing, sapi, atau ayam milik tetangga. Tapi suara hujan mengambil alih semuanya.
Tok, tok, tok.
Terdengar ketukan di jendela.
Aku melirik jam dinding, beberapa menit lagi pukul dua. Aku berhenti dari aktivitas di layar gawai, menurunkan kaki yang sejak tadi berselonjor di atas meja komputer.
“Siapa?”
“Aku.”
“Ya, siapa?”
“Masak gak ingat dengan suaraku, sih?”
Aku langsung beranjak ke jendela dan membukanya. Suara hujan semakin keras. Gerimis halus yang dibawa angin sedikit menerpa wajahku.
“Loh, Aela, ngapain ke sini?”
“Memangnya tidak boleh? Ayo pegangin, aku mau lewat sini,” pintanya. “Aku tahu kalau jam segini kamu pasti belum tidur.”
Aku hanya tersenyum padanya.
Ia sesosok makhluk yang terbuat dari air hujan. Tubuhnya bening seperti Wade Ripple dalam film Elemental: Forces of Nature. Ia mengenakan busana perpaduan kain polos warna cokelat dan batik marongghi. Matanya berkilau seperti ada titik embun. Aku menarik tangannya yang lembut seperti jelly. Ia pun menyerahkan beberapa bungkus bawaannya. Setiap mampir ke rumah, ia tidak pernah dengan tangan kosong.
“Silakan duduk!”
“Terima kasih.”
Aku mengenalnya beberapa tahun lalu. Saat itu, jalan menuju rumah tergenang air, gorong-gorong tersumbat membuat air meluap hingga ke halaman rumahku. Sosok Hujan terlihat murung, ia terpisah dari teman-temannya yang singgah di desa lain. Ia merasa sedih atas ucapan orang-orang yang menyalahkannya, katanya.
Aku mengajaknya ke rumah, barangkali di luar dingin. Tapi aku tidak tahu apakah sosok seperti dia juga merasakan dingin. Sosok Hujan menolak ajakanku. Mungkin karena aku orang baru. Ia memilih pergi dari hadapanku.
“Jika di lain waktu bertemu lagi, mungkin aku bersedia mampir,” katanya.
Begitulah awal pertemuanku. Di hari-hari berikutnya, aku pun bertemu kembali saat aku membiarkan air hujan membasahi tubuhku sepulang dari makan malam. Aku sempat kaget, percikan air hujan tiba-tiba membentuk wujud seperti manusia bening. Ia mengaku bernama Aela. Kami pun saling kenal dan bertukar cerita. Ia tidak segan untuk curhat, misalnya bercerita bagaimana buyutnya sering disalahkan oleh manusia karena hujan menjadi penyebab banjir yang menerpa wilayah tengah Situbondo, Dam Sluice meluap di tahun 2008. Banjir itu menewaskan belasan korban jiwa.
Dan dini hari ini ia masih menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahku.
“Jika kamu lapar, di dapur ada mi dan telur,” kataku.
“Masih belum lapar,” jawabnya. “Jadi kamu masih sendiri di sini?” lanjutnya.
“Ya.”
“Pantas saja.”
Aku mengabaikan obrolannya sembari mengalihkan pandangan ke layar gawai, melanjutkan gim kesukaan.
Aela lebih memilih merapikan meja dengan memindahkan kamera, pena, buku catatan, dan bungkus makanan di meja komputer. Ia mengambil gelas kopi yang sudah tersisa ampas dan beranjak ke belakang, mungkin ke tempat cuci piring. Beberapa menit berlalu, ia kembali dan mengobrol.
“Kamu harus banyak minum!”
“Males mau ngisi air galon.”
“Ini gratis.”
“Air apa ini?”
“Air hujan.”
“Wah, perhatian sekali, kenapa gak jadi kekasihku saja?”
“Mana ada yang mau sama kamu?”
“Memangnya kenapa?”
“Kamu tidak bisa merawat diri. Bau dan jarang mandi. Lihat! Kasur dan meja kerja berantakan. Dan yang terakhir….”
Ia diam sejenak.
“Apa yang terakhir?”
“Kamu pemalas, suka menunda pekerjaan.”
“Aku baru tahu kalau aku seperti itu.”
“Dasar.”
“Aku harus gimana?”
“Mana kutahu. Pikir aja sendiri!”
“Tapi aku nyaman seperti ini.”
“Terserah.”
***
Aku pun menikmati sesuatu yang dibawa Aela, sebungkus kenangan tentang kakekku. Suasana kamar berubah seperti adegan film yang berbentuk seperti hologram. Ia menemukan arsip ini di perpustakaan, katanya.
Ia menampilkan Kakekku sewaktu muda yang sedang memelihara kambing. Kakek basah kuyup, mencari tempat berteduh bersama kambing-kambing. Ia merasa senang ketika kambingnya banyak terjual seharga Rp200 per ekor. Hari itu nenek versi muda akan melahirkan ayahku.
Buyut Aela juga merekam kakek ketika bekerja di sawah, saat sedang menebang tebu melalui lori untuk dikirim ke PG Olean. Kakek orang yang suka bekerja apa saja, tidak pemilih demi menghudupi keluarga. Apalagi mengetahui akan punya anak.
“Kamu masih ingat waktu kanak-kanak sering minta uang sama kakekmu?” kata Aela.
“Ya. Dari mana kamu tahu?”
“Aku punya arsipnya, buyutku pernah singgah di halaman kakek-nenekmu. Mereka suka menanam apa saja di halaman rumah. Mulai dari sirih, jeruk nipis, jahe, pepaya, terong, jambu, cabai. Dari hasil tanaman kadang ada tetangga yang mau membeli. Mereka pun menyisihkan uang untukmu.”
Aku hanya diam tidak merespons.
“Kamu tahu doa yang sering dipanjatkan oleh kakekmu?”
“Apa?”
“Supaya menjadi orang yang beruntung, dimudahkan dalam mencari ilmu, dan menjadi orang yang bermanfaat.”
***
Saat ini aku berusaha biasa saja menerima masa lalu atau cerita-cerita yang dibawa oleh Aela, sosok hujan yang kuanggap sebagai teman. Awalnya, aku sempat kesal dan marah saat ia membawa cerita-cerita kedua orang tua. Aela bercerita kalau dia menemukanku dalam arsip perpustakaan. Aku digendong ibu saat hujan deras. Aku tidak tahu akan dibawa ke mana, yang jelas ibu menangis. Ketika menginjak remaja, aku baru tahu, ibu dan ayah tidak bisa hidup bersama dalam satu rumah. Tapi aku sadar, mungkin Aela dikirim padaku supaya bisa membasuh luka-luka lama hingga aku tidak merasa apa-apa jika mengingatnya. Aku tidak lagi takut pada kenangan.
“Aku merindukan nasi buk-buk buatan nenek,” kataku pada Aela.
“Seperti apa makanan itu?”
“Nasi jagung halus, dengan lauk tahu goreng setengah matang dan ghangan kalentang. Aku tidak tahu resepnya. Nenek memasak dengan kayu bakar dalam tungku yang terbuat dari bata. Aku menyebutnya tomang. Kadang nenek menggoreng ikan asin katambhak. Lalu disempurnakan dengan sambal kacang goreng yang dikucek, ditambah cabai yang sudah dikukus, garam, gula, terasi. Setiap ke rumah kakek nenek selalu menawariku makan. Apa kamu bisa membantuku mencari resep itu?”
“Aku tidak banyak menyimpan arsip tentang nenekmu saat berada di dapur.”
“Baiklah, tak apa.”
Sayup tarhim samar-samar terdengar di sela suara hujan yang mulai pelan. Aela berpamitan, katanya harus mengunjungi beberapa tempat di wilayah Situbondo. Ia membuka jendela kemudian menoleh padaku sembari tersenyum.
Aku pun membalasnya. “Apa kau besok akan ke sini lagi?”
“Mungkin jarang. Oh ya, aku sudah punya kekasih baru.”
“Emm…, selamat, ya.”
“Sudah hampir dua tahun kamu mengurung diri di rumah. Cobalah buka bungkusan yang warna putih, mumpung masih hangat.”
“Bawa apa kamu?”
“Bukalah! Nanti kamu akan tahu,” katanya sembari menutup jendela dari luar.
Aku melihat beberapa bungkus yang ia bawa di rak dipan. Aku tidak tahu apa isinya. Aku membuka bungkusan yang dibawa Aela. Aroma masa lalu menyeruak. Semuanya menjelma seperti hologram. Sebuah fragmen kisah, terdengar suara serak tangisan, wajah murung terlihat dari balik jendela. Dilihat dari bunga di halaman dan gambar di tembok terasa tidak asing. Ya, itu di rumah kos Jl. Cendrawasih. Sosok di jendela itu adalah teman lama yang pernah saling bertukar perasaan.
Sementara suara hujan pun mereda, tergantikan dengan suara sayup menjelang subuh yang semakin nyaring, iramanya membawaku ke dunia entah di mana. Hujan kedua mulai turun. Aku menyeka dan bangkit. Pagi-pagi ini, aku segera keluar rumah dan melakukan sesuatu.

Tentang Penulis
Moh. Imron, lahir dan tinggal di Situbondo. Aktif di komunitas literasi Situbondo. Menulis Buku Kumpulan Cerpen dan Esai “Putri Tidur” Kisah dari Situbondo (2018). Tiktok @ronmuhammad

 

 

By redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *