Oleh: Irwan Rakhday

Jika teman-teman berkunjung ke rumah saya di Asembagus, Kabupaten Situbondo, ada satu pertanyaan yang sering muncul dari mereka, kenapa tidak memajang lukisan binatang atau manusia atau makhluk bernyawa (secara utuh) atau memajang foto-foto serupa? Jawabannya tidak tunggal. Penolakan terhadap karya lukisan makhluk bernyawa bukan hanya milik satu agama. Ia dipraktikkan, dengan kadar dan alasan yang berbeda, dalam tiga agama besar.
Tulisan ini bukan fatwa. Ini hanya kolom ringan untuk memahami mengapa sebagian orang memilih untuk tidak melukis yang bernyawa atau anikonisme dan mengapa pilihan itu patut dihormati.
1. Dalam Islam: Menjaga Tauhid dan Menutup Jalan Menuju Pemujaan
Dalam tradisi Islam, penolakan melukis makhluk bernyawa berakar pada konsep tauhid. Ada kekhawatiran yang sangat mendasar, bahwa meniru ciptaan Allah secara sempurna dalam bentuk makhluk bernyawa bisa membuka pintu menuju pemujaan terhadap gambar itu sendiri. Hadis-hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim menyebut tentang beratnya tanggung jawab pembuat gambar yang bernyawa di hari akhir.
Karena itu, para ulama salaf membedakan dengan tegas. Melukis gunung, laut, pohon, kaligrafi, arsitektur, ornamen batik, itu dianjurkan dan menjadi puncak keindahan seni Islam. Tetapi melukis manusia dan hewan secara utuh, dengan wajah dan mata yang lengkap, banyak yang menghindarinya.
Praktiknya di masyarakat pun beragam. Ada yang menolak total. Ada yang membolehkan dengan syarat tidak utuh, misalnya lukisan “Damai Tanpa Kepala” yang kepalanya sengaja dileburkan menjadi asap. Dengan menghilangkan kepala, unsur yang dianggap paling menghidupkan itu dihilangkan, sehingga ia tidak lagi dianggap meniru ciptaan secara sempurna. Ini adalah jalan tengah yang banyak dipakai seniman muslim.
Intinya bukan benci seni, melainkan kehati-hatian dalam menjaga kemurnian ibadah.
Jika kita membedah lukisan tersebut lebih mendalam, justru karya itu menyuguhkan narasi visual yang sangat kontemplatif tentang pencapaian kedamaian batin melalui peniadaan diri. Di atas kanvas yang kaya akan tekstur impresionistik, divisualkan momentum pelepasan ego yang radikal namun menenangkan.
Eksplorasi visual dan makna dalam karya ini dapat dibaca dalam tiga lapisan.
Pertama, pelepasan pikiran dan ego. Fokus utama tertuju pada sosok figuratif yang duduk bersila dalam posisi meditasi di tepi tebing. Alih-alih memiliki wajah atau kepala yang utuh, bagian atas tubuhnya bertransisi menjadi goresan-goresan cat yang dinamis, menyerupai asap atau energi yang membubung dan menyatu dengan langit. Elemen ini secara gamblang menggambarkan proses destruksi sekaligus pembebasan. Sebuah metafora visual tentang bagaimana hidup akan terasa damai bila manusia berhasil melepaskan ego, emosi, keinginan, serta pikiran-pikiran yang memuncak dan membebani otak. Kepala yang lenyap bukan melambangkan kematian, melainkan hilangnya kungkungan rasionalitas dan ekspektasi duniawi.
Kedua, kontras ketenangan dan gejolak. Terjadi dualitas yang memikat dalam komposisi ini. Tubuh figur tampak begitu tenang dan berserah diri dengan tangan yang tertangkup pasrah, kontras dengan latar belakang laut berombak serta awan badai yang dramatis. Ini menunjukkan bahwa kedamaian sejati tidak ditemukan dengan cara melarikan diri dari badai kehidupan, melainkan dengan menenangkan badai di dalam pikiran kita sendiri.
Ketiga, simbolisme mercusuar. Di kejauhan, sebuah mercusuar berdiri tegak di ujung tanjung di bawah semburat cahaya matahari terbenam yang hangat. Mercusuar ini berfungsi sebagai sauh spiritual, sebuah simbol harapan dan penunjuk arah terlahir kembali setelah manusia berhasil melampaui riuh rendah isi kepalanya.
Jika dihubungkan dengan esensi cahaya ilahi, makna lukisan ini menjadi semakin dalam.
Keadaan tanpa kepala bisa ditafsirkan sebagai fana. Fana adalah fase di mana aku kecil, nafsu, dan kerumitan pikiran dipadamkan. Ketika kepala sebagai simbol akal yang selalu menghitung, menghakimi, dan mengkhawatirkan itu dilepaskan, maka yang tersisa bukanlah kekosongan yang hampa, melainkan ruang yang lapang bagi cahaya ilahi untuk masuk.
Sapuan cat yang membubung dari tubuh menuju langit dalam lukisan ini sejatinya adalah visualisasi dari proses itu. Asap pikiran yang naik dan lenyap, digantikan oleh cahaya senja yang hangat. Itulah nur. Cahaya ilahi tidak bisa menetap di wadah yang penuh. Ia hanya akan bertahta di hati yang telah dikosongkan.
Laut berombak dan awan badai adalah gambaran dunia dan nafsu yang tidak pernah berhenti bergolak. Tubuh yang tetap duduk tenang adalah gambaran qalb yang telah menemukan sakinah. Dan mercusuar di ujung tanjung adalah tajalli cahaya ilahi itu sendiri. Ia tidak berteriak, ia hanya bercahaya. Ia tidak mendatangi kita, kitalah yang harus mendiamkan riuh di dalam diri agar bisa melihat arahnya.
Melalui teknik impasto yang tebal dan palet warna yang bergerak dari kegelapan badai menuju hangatnya senja, karya ini mengabadikan esensi dari filsafat asketisme modern yang sejalan dengan ajaran lama: bahwa kebahagiaan tertinggi dan pertemuan dengan cahaya ilahi dicapai bukan dengan menambah sesuatu ke dalam diri, melainkan dengan berani mengosongkan diri dari segala riuh isi kepala. Ketika pikiran padam, cahaya menyala.
2. Dalam Yudaisme: Perintah Kedua yang Dijaga Ketat
Jauh sebelum Islam, penolakan ini sudah hidup dalam Yudaisme. Sumbernya adalah Perintah Kedua dalam Sepuluh Perintah Tuhan, dalam Kitab Keluaran 20:4-5. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya.
Bagi umat Yahudi yang ortodoks, ayat ini ditafsirkan sebagai larangan membuat gambar makhluk bernyawa untuk tujuan pemujaan. Sejarah Bani Israil yang pernah terjerumus menyembah anak lembu emas menjadi pelajaran abadi. Maka seni visual Yahudi tradisional lebih banyak berkembang dalam bentuk ornamen, kaligrafi Ibrani, dan pola geometris yang rumit di sinagoge, bukan dalam bentuk patung atau lukisan manusia yang dipuja.
Mereka tidak menolak keindahan. Mereka menolak risiko bahwa keindahan itu akan menggantikan Tuhan.
3. Dalam Kristen: Gerakan Ikonoklasme yang Pernah Membelah Gereja
Banyak yang mengira Kristen selalu akrab dengan lukisan dan patung orang kudus. Padahal, dalam sejarah Kristen pernah terjadi penolakan besar yang dikenal dengan nama Ikonoklasme, yaitu gerakan penghancuran ikon.
Pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi, Kekaisaran Bizantium di bawah Kaisar Leo III melarang pembuatan dan pemujaan ikon bergambar Kristus, Bunda Maria, dan orang-orang kudus. Alasannya sama, kekhawatiran bahwa umat akan menyembah kayu dan cat itu sendiri, bukan Tuhan yang diwakilinya. Gereja-gereja dibersihkan dari lukisan makhluk bernyawa, diganti dengan salib polos dan ornamen.
Gerakan ini kemudian juga muncul kembali dalam Reformasi Protestan. Tokoh seperti Yohanes Calvin menolak patung dan lukisan bernyawa di dalam gereja dengan alasan bahwa Allah adalah roh yang tak tergambarkan. Hingga hari ini, kita bisa melihat perbedaannya. Gereja Katolik dan Ortodoks dipenuhi lukisan, sementara banyak gereja Protestan Reformed yang dindingnya polos, hanya ada mimbar dan salib kayu tanpa tubuh.
Tiga agama, satu kegelisahan yang sama. Kegelisahan tentang batas antara menghormati keindahan ciptaan dan secara tidak sadar mempertuhankan ciptaan itu.
Lalu di mana posisi seniman hari ini.
Bagi saya, memahami penolakan ini justru membuat kita lebih kreatif. Ketika seorang seniman muslim memilih untuk tidak melukis wajah secara utuh, ia dipaksa untuk berpikir lebih dalam tentang simbol, tentang cahaya, tentang asap, tentang bayangan. Ketika seorang seniman Yahudi tidak membuat patung, ia justru menjadi maestro dalam kaligrafi. Ketika gereja Protestan menolak ikon, ia justru melahirkan musik koral yang menggetarkan jiwa.
Menolak melukis makhluk bernyawa bukanlah akhir dari seni. Ia adalah sebuah laku spiritual untuk berkata, ada sesuatu yang lebih besar dari apa yang bisa saya tangkap dengan kuas saya. Dan dengan menyadari keterbatasan itu, seni justru menemukan jalannya untuk menyentuh cahaya ilahi, bukan dengan meniru wujudnya, melainkan dengan merasakan kehadirannya.(*ik)
*Penulis adalah Pelukis “Pensiun” yang masih terobsesi menemukan karakter lukisannya.
