Kolom
Irwan Rakhday
Faktanya sudah resmi: Jumat, 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) berdasarkan Keppres Nomor 107/P/2026. Ia duduk sejajar dengan 25 tokoh lain di bawah Ketua Pratikno dan Wakil Ketua Hatta Rajasa.
Ini plot twist politik yang menggelitik. Selama bertahun-tahun, Rocky membangun citra sebagai filsuf jalanan yang tak mau disentuh kekuasaan. Kini ia memakai jas, dasi biru, dan peci hitam, menandatangani berita acara di depan Presiden.
Menanggapi sorotan, Rocky santai saja: “Ya kan cuma pindah. Saya cuma pindah dari luar ke dalam, apa bedanya? Sikap saya tetap, pandangan saya tetap, radical break. Justru lebih enak di dalam.” Ia juga menegaskan Wantimpres punya kedudukan etis, bukan teknis, untuk melihat ekses-ekses kebijakan.
Argumennya canggih, khas filsuf. Tapi publik Indonesia jauh lebih cair dalam merespons. Di Instagram dan Threads, pelantikan ini langsung jadi bahan meme nasional. Nama “Rocky Gerung” diganti netizen menjadi “Rocky Girang” atau “Rocky Garong”. Komentar paling populer: “Ow jadi gini ya model baru bungkam yg kritis, kasih jabatan jadi jinak nanti” dan “Ternyata benar ya manusia munafik. Dulu katanya ndak mau jadi pemerintah”.
Menggelitiknya di sini: Rocky dulu gemar menyebut lawan debatnya “dungu”. Kini netizen mengembalikan kata itu kepadanya dengan logika sederhana: semua akan dungu pada waktunya, apalagi setelah dapat jatah.
Tentu, ada pembelaan yang masuk akal. Sebagian kecil publik menilai ini pragmatisme: bagaimana mau memperbaiki sistem kalau tidak masuk sistem? Wantimpres memang bukan jabatan eksekutif, tugasnya memberi pertimbangan etis, bukan bagi-bagi proyek.
Tapi justru di situlah letak humor politiknya. Rocky berjanji akan tetap kritis dari dalam, menjalankan “fungsi kritis, bukan kritik”. Bedanya apa? Mungkin bedanya seperti menonton kebakaran dari luar pagar versus menonton dari dalam rumah yang terbakar, sambil tetap berteriak “api!” tapi dengan AC menyala.
Kita tunggu saja. Apakah taring filsafatnya akan tetap tajam mengawasi ekses kekuasaan, atau justru menjadi tumpul karena terlalu nyaman di kursi empuk Istana? Seperti kata netizen: “Kita lihat saja apakah taringnya masih tajam atau jadi garing.”
Selamat bertugas, Bung. Jangan lupa bawa kaca, agar saat memberi nasihat etis kepada Presiden, Anda juga bisa berkaca.(*)

