Feature Autobiografi | 2012-2026

Irwan Kurniadi saat meneliti salah satu artefak yang ada di Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Gang Sorakerta XI, Kampung Timur, Desa Asembagus , Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Di ujung lorong itu berdiri sebuah rumah sederhana yang isinya bukan perabot, tapi memori. Guci, batu, prasasti, foto situs. Itulah Museum Balumbung. Penjaganya duduk di teras, menyeduh kopi. Irwan Kurniadi, 49 tahun, yang lebih akrab dipanggil Irwan Rakhday, menatap rak artefak di depannya.
“Kita ini lahir di tanah yang kaya, tapi sering lupa sama jejaknya sendiri,” katanya, suaranya pelan tapi pasti.
Awal dari Kegelisahan 2012
Kiprah Irwan sebagai pegiat cagar budaya dimulai 2 Juli 2012. Waktu itu ia belum punya museum, belum ada yayasan. Hanya ada rasa tidak rela melihat situs dan artefak Situbondo hilang tanpa catatan. Momentum rencana dirobohkannya gedung Eks Kawedanan Sumberwaru melecut inisiatif berdirinya sebuah komunitas kecagarbudayaan pertama di Kabupaten Situbondo.
Ia lalu mendirikan FPCB Situbondo, Forum Penyelamat Cagar Budaya Situbondo, dan menempatkan diri sebagai Humas. Dari komunitas kecil itulah ia turun ke lapangan: melakukan advokasi, memotret situs, mencatat lokasi, bicara dengan warga yang menyimpan benda tua di rumahnya.
“Orang bilang, ngapain ngumpulin batu pecah? Tapi bagi saya, setiap pecahan itu cerita,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Sejak 2012 hingga sekarang ia konsisten mendokumentasi, menyelamatkan, dan mengkampanyekan pentingnya cagar budaya di Tapal Kuda, khususnya Situbondo. Ia mengaku belajar banyak dari warga, bukan dari buku.
Dari Komunitas ke Aksi Nyata
Perjalanannya tidak berhenti di FPCB. 25 September 2014 ia ikut mendirikan LSM Wirabhumi Situbondo, masih sebagai Humas. Tiga tahun kemudian, 1 Juni 2017, jangkauannya melebar ke Lumajang. Ia dipercaya jadi Sekjen Dang Acarya, Dewan Perjuangan dan Advokasi Cagar Budaya.
Irwan menyebut semua komunitas itu sebagai “sekolah lapangan”. Dari sana ia memahami bahwa menyelamatkan cagar budaya butuh data. Maka 10 Juli 2019 ia mendirikan PICB Balumbung, Pusat Informasi Cagar Budaya Balumbung. Lewat PICB, ia dan kawan-kawan memetakan situs dan bekerja sama dengan FPPS, Forum Pustakawan dan Perpustakaan Situbondo.
Kerja sama itu melahirkan buku. Akhir 2019, bukunya “Jejak Majapahit di Kabupaten Situbondo” terbit, nyaris bersamaan pula kiprahnya dalam kecagarbudayaan Situbondo, di tahun itu pula ia dipercaya sebagai anggota TACB ( Tim Ahli Cagar Budaya) Kabupaten Situbondo oleh Pemkab Situbondo, setelah lolos asesmen ahli cagar budaya.
Dua tahun berikutnya, diluncurkan buku “Mosaik Cagar Budaya Klasik Situbondo” 2020 dan “Mengenal Warisan Budaya Megalitik di Kabupaten Situbondo” 2021.
Menurut Irwan, menulis buku bukan untuk jadi penulis, tapi agar data yang dikumpulkan anak muda Situbondo tidak hilang. “Kalau tidak ditulis, 20 tahun lagi siapa yang ingat?” katanya.
4 April 2020: Rumah untuk Sejarah
Puncak dari semua kegelisahan itu terjadi di tengah pandemi. 4 April 2020, Irwan mendirikan Museum Balumbung di rumahnya sendiri, Asembagus. Artefak yang sejak 2012 ia kumpulkan akhirnya punya rumah.
Ia sadar museum swasta butuh legalitas. Maka 16 Mei 2020 ia menggelar rapat bersama 6 orang lain termasuk Akhmad Juni Toa dan Agung Hariyanto. Hasilnya: lahirlah Yayasan Museum Balumbung Situbondo. Akta notaris ditandatangani 8 Juni 2020, SK Menkumham turun 11 Juni 2020. Dokumen diserahterimakan 23 Juni 2020, hari yang sama PICB Balumbung resmi berafiliasi ke yayasan.
Kini ia menjabat Ketua Umum YMBS sekaligus Kepala Museum Balumbung. Sekretariat yayasan dan museum jadi satu, jadi pusat edukasi sejarah untuk siswa, mahasiswa, bahkan peneliti dari luar Situbondo.
“Status saya PNS, tapi hati saya pegiat. Gaji buat keluarga, waktu buat sejarah,” ujarnya singkat.
Motto yang Menjadi Jalan
Lulusan D2 Pendidikan Olahraga UT UPBJJ Jember 2008 ini tidak pernah menganggap dirinya ahli. Ia hanya warga Situbondo yang lahir 10 Juli 1977 dan kebetulan punya waktu lebih untuk berkeliling desa.
Dari FPCB 2012 sampai YMBS 2020-sekarang, benang merahnya satu: membuat anak Situbondo bangga dengan tanahnya sendiri. Lewat museum, lewat buku, lewat ngobrol dengan siswa SMP yang datang ke Asembagus.
Di akhir obrolan, ia menunjuk motto yang ditempel di dinding museum: _“Menyelamatkan jejak masa lalu, agar Situbondo tidak kehilangan jati dirinya.”_
“Kalau generasi sekarang tidak kenal situs di desanya, besok-besok Situbondo tinggal nama,” katanya.
Ia menyeruput kopinya. Di luar, siswa SMP mulai berdatangan untuk belajar. Museum kecil itu kembali hidup, seperti jejak-jejak yang ia selamatkan, satu per satu.
Pewarta: Pika Gustina Sari
