Oleh: M. Basyir Zubair

(Foto: Lutfi Yondri)
Hasil ekskavasi resmi membantah teori piramida purba berusia puluhan ribu tahun.
Kontroversi panjang seputar Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, kembali menemui titik terang. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Kementerian Kebudayaan secara tegas menyatakan bahwa Gunung Padang bukanlah piramida, sebagaimana diklaim oleh sejumlah pihak selama bertahun-tahun.
Klaim Sensasional yang Menghebohkan
Selama lebih dari satu dekade, tim yang dipimpin oleh geolog Danny Hilman Natawidjaja dari LIPI (kini BRIN) membuat serangkaian klaim mengejutkan tentang Gunung Padang:
1. Piramida Tertua di Dunia
Tim Danny Hilman mengklaim Gunung Padang adalah struktur piramida raksasa buatan manusia yang dibangun secara bertahap dalam beberapa lapisan. Mereka menyebut struktur ini jauh lebih tua dari piramida Mesir.
2. Usia Fantastis: 9.000-28.000 Tahun
Klaim paling kontroversial adalah pernyataan bahwa bagian terdalam struktur ini berusia hingga 20.000-28.000 tahun yang lalu. Jika benar, ini akan mengubah total pemahaman kita tentang sejarah peradaban manusia.
3. Peradaban Maju Nusantara Purba
Mereka menyimpulkan bahwa di Nusantara pernah ada peradaban maju yang sudah mampu membangun struktur megah ribuan tahun sebelum peradaban Mesir, Mesopotamia, atau peradaban kuno lainnya yang dikenal.
4. Ruang Tersembunyi di Dalam Struktur
Berdasarkan survei geofisika, tim mengklaim menemukan rongga atau ruang-ruang tersembunyi di dalam “piramida” tersebut.
Klaim-klaim ini tidak hanya datang dari Danny Hilman, tetapi juga didukung oleh beberapa tokoh lain seperti Andang Bachtiar dan sejumlah peneliti yang tergabung dalam tim khusus.
Sumber Klaim: Publikasi Ilmiah yang Ditarik
Klaim-klaim kontroversial ini dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul “Geo-archaeological prospecting of Gunung Padang buried prehistoric pyramid in West Java, Indonesia” yang diterbitkan di jurnal Archaeological Prospection pada 20 Oktober 2023.
Tim penulis terdiri dari: Danny Hilman Natawidjaja, Andang Bachtiar, Bagus Endar B. Nurhandoko, Ali Akbar, Pon Purajatnika, Mudrik R. Daryono, Dadan D. Wardhana, Andri S. Subandriyo, Andi Krisyunianto, Tagyuddin, Budianto Ontowiryo, dan Yusuf Maulana.
Namun, artikel tersebut kemudian ditarik (retracted) oleh jurnal pada 18 Maret 2024. Alasan pencabutan adalah ditemukannya kesalahan besar: penanggalan karbon radioaktif dilakukan pada sampel tanah yang tidak terkait dengan artefak atau fitur yang dapat secara meyakinkan diinterpretasikan sebagai buatan manusia. Dengan demikian, interpretasi bahwa situs ini adalah piramida purba berusia 9.000 tahun atau lebih dinyatakan keliru.
Danny Hilman dan timnya menolak keras pencabutan ini, menyebutnya sebagai tindakan yang tidak berdasar dan melanggar etika akademis. Mereka bahkan mengaitkan kritik dengan agenda untuk “memfitnah” warisan leluhur Nusantara.
Narasi ini sempat mendapat perhatian tinggi, bahkan pernah didanai pemerintah era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menjadi topik hangat di media massa maupun media sosial. Danny Hilman juga menulis buku berjudul “Plato Tidak Bohong: Atlantis Ada di Indonesia” (2013), mengaitkan Gunung Padang dengan legenda Atlantis.
Penolakan Komunitas Ilmiah
Sejak awal, mayoritas arkeolog dan geolog Indonesia maupun internasional menyatakan skeptisisme tinggi terhadap klaim-klaim tersebut. Kritik tajam datang dari berbagai pihak:
– Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menolak keras interpretasi Danny Hilman dan menyebut metodologinya bermasalah
– Para ahli geologi mempertanyakan interpretasi data geofisika yang dianggap keliru dan cenderung mengabaikan penjelasan geologis alami
– Arkeolog internasional menyoroti tidak adanya bukti artefak atau temuan arkeologis yang mendukung klaim peradaban maju purba
– Komunitas ilmiah mengkritik kurangnya publikasi di jurnal ilmiah bereputasi dan peer review yang memadai
Beberapa ahli bahkan menyebut formasi batuan di Gunung Padang kemungkinan besar adalah hasil proses geologis alami yang kemudian dimanfaatkan oleh manusia untuk keperluan ritual pada masa yang jauh lebih kemudian.
Fakta Terkini: Hasil Ekskavasi Resmi
Pada Januari 2026, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan, memberikan klarifikasi resmi berdasarkan hasil pemugaran dan ekskavasi yang dilakukan sejak Desember 2025.
Temuan Penting:
1. Tidak Ada Struktur Piramida
Hasil penggalian menunjukkan struktur batuan hanya sedalam 1 hingga 1,5 meter dari permukaan. Tidak ditemukan struktur berlapis-lapis yang mengarah pada bentuk piramida seperti yang diklaim.
2. Punden Berundak, Bukan Piramida
Gunung Padang terbukti merupakan punden berundak atau teras berundak, bentuk bangunan megalitikum yang umum digunakan masyarakat kuno Nusantara untuk aktivitas ritual dan pemujaan.
3. Batu sebagai Pondasi Ritual
Batu-batu di bagian dalam diperkirakan sebagai pondasi, sementara bagian atas ditata untuk keperluan upacara. Struktur ini konsisten dengan situs megalitik lain di Indonesia.
4. Fungsi Ritual, Bukan Pusat Peradaban
Kementerian Kebudayaan menyampaikan bahwa tema besar situs ini adalah untuk aktivitas ritual keagamaan, bukan sebagai pusat kerajaan atau peradaban maju.
“Batunya tidak sampai ke dalam. Setelah diekskavasi, paling dalam hanya sekitar 1 sampai 1,5 meter. Jadi tidak ditemukan struktur piramida,” hal itu dinyatakan Iendra Sofyan.
Ia juga menegaskan bahwa narasi Gunung Padang sebagai piramida tidak memiliki dasar kuat secara ilmiah berdasarkan hasil ekskavasi terbaru.
Mengapa Klaim Keliru Ini Bisa Bertahan Lama?
Beberapa faktor membuat klaim kontroversial ini bertahan dan bahkan mendapat dukungan:
1. Daya Tarik Narasi Sensasional –
Cerita tentang peradaban hilang dan piramida purba sangat menarik perhatian publik
2. Nasionalisme Berlebihan –
Keinginan membuktikan kehebatan peradaban Nusantara kuno kadang mengalahkan objektifitas ilmiah
3. Misinformasi di Media Sosial –
Klaim sensasional lebih mudah viral dibanding penjelasan ilmiah yang kompleks
4. Dukungan Sebagian Pejabat – Beberapa pejabat pernah mendukung penelitian ini, memberikan legitimasi publik meski ditolak komunitas ilmiah
Pelajaran Penting
Kasus Gunung Padang menjadi pengingat penting tentang:
– Pentingnya metode ilmiah yang ketat dalam penelitian arkeologi dan geologi
– Bahaya pseudosains yang dibungkus dengan istilah-istilah ilmiah
– Perlunya skeptisisme sehat terhadap klaim-klaim luar biasa yang tidak didukung bukti memadai
– Pentingnya peer review dan publikasi di jurnal ilmiah bereputasi
Ke Depan: Pemugaran dan Pelestarian
Pemerintah kini fokus pada pemugaran situs yang ditargetkan selesai dalam 2-3 tahun ke depan. Tujuannya adalah menata struktur agar bentuk asli punden berundak semakin jelas dan dapat dipahami publik dengan proporsional.
Menurut Iendra, pemugaran itu bukan membangun ulang, tapi menata. Batu-batu yang posisinya tidak rapi diluruskan agar struktur aslinya bisa terbaca dengan baik.
Gunung Padang tetap merupakan situs megalitikum penting dan warisan budaya berharga, meski bukan piramida purba berusia puluhan ribu tahun. Sebagai punden berundak dari masa prasejarah, situs ini tetap memiliki nilai arkeologis dan budaya yang signifikan untuk dipelajari dan dilestarikan.
Kesimpulan :
Bukti empiris dari ekskavasi resmi telah membantah klaim-klaim sensasional tentang Gunung Padang sebagai piramida purba. Situs ini adalah punden berundak megalitikum untuk keperluan ritual tetap berharga secara arkeologis, namun tidak perlu dibungkus narasi yang tidak didukung bukti ilmiah.(*)
05012026
- *Penulis adalah Arkeolog UGM.
