Sel. Jul 28th, 2026
Tim Gabungan BRIN dan EFEO didampingi oleh Pengurus Yayasan Museum Balumbung Situbondo Rabu (8/7/2026) di lokasi Prasasti Widoro Pasar, Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.(Foto:BRIN)

suarabalumbung.com, Situbondo – Prof. Arlo Griffiths selaku Kepala EFEO (École française d’Extrême-Orient) Jakarta mengunjungi Museum Balumbung di Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur pada Rabu (8/7/2026). Kunjungan itu bagian dari riset Tim Peneliti gabungan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan EFEO Paris di Kabupaten Situbondo.

Menurut Prof. Arlo, kegiatan ini fokus pada pendataan prasasti-prasasti yang selama ini jarang disentuh peneliti, khususnya prasasti yang hanya memuat angka tahun.

“Database digital ini nantinya akan terhubung dengan arsip EFEO di Paris dan bisa diakses secara daring. Tujuannya agar data sejarah bisa dipakai akademisi dan masyarakat luas tanpa harus merusak fisik prasastinya,” ujar Prof. Arlo di sela observasi.

 

Sebelum turun ke lapangan, tim terlebih dahulu melakukan observasi di Museum Balumbung sebab di museum itu mereka meneliti salah satu Prasasti Agel yang berasal dari Kecamatan Jangkar. Prasasti itu berada di Museum Balumbung sejak tahun 2020.

Observasi dilakukan untuk memetakan gaya penulisan dan konteks tahun pada prasasti tersebut.

Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek kolaborasi BRIN dan EFEO yang telah berjalan sejak 2022. Fokus utamanya adalah menghimpun IDD / Informasi Data Digital prasasti di Pulau Jawa.

Tim beranggotakan 6 orang yakni  Dr. Titi Surti Nastiti, Prof. Arlo Griffiths dari EFEO, Luh Suwita Utami, S.S., M.Si. dari BRIN, Hedwi Prihatmoko, M.Hum. dari BRIN, Eko Bastiawan, S.S. M.A. dari EFEO, dan Garin Dwiyanto Pharmasetiawan dari EFEO. Garin merupakan  mahasiswa magang dari SOAS University of London.

Setelah dari museum, tim bergerak ke Prasasti Widoro Pasar di Dusun Widoro Pasar, Desa Banyuputih, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo.

Titi Surti Nastiti menyebut, prasasti di lokasi ini memiliki keunikan tersendiri.

“Ini kemungkinan besar kami tim pertama yang datang khusus membaca aksara prasasti ini. Prasasti di sini sebagian besar hanya terbaca angka tahunnya. Peneliti yang khusus menggarap prasasti angka tahun memang masih sangat langka,” ujar Titi.

Ia menjelaskan, selama ini banyak prasasti yang hanya dipotret sekilas karena dianggap “tidak punya narasi”. Padahal dari angka tahun saja bisa ditarik informasi tentang sistem penanggalan, perpindahan kekuasaan, dan jaringan perdagangan masa lalu.

“Tujuan kita mendata dan mendigitalisasi prasasti. Jadi datanya bisa dipakai siapa saja, tanpa harus menyentuh fisik prasastinya lagi. Ini bentuk penyelamatan,” lanjut Titi.

“Data dari Situbondo akan melengkapi basis data nasional yang sedang kami bangun,” tegasnya.

 

Titi menambahkan, proyek ini menggunakan teknologi pemindaian 3D dan fotografi beresolusi tinggi. Dengan begitu, isi prasasti bisa dibaca, diarsip, dan disebarluaskan tanpa harus memindahkan atau menggosok fisik batunya.

“Kerja sama BRIN dan EFEO ini langkah penting untuk penyelamatan data sejarah kita. Harapannya ke depan masyarakat umum juga bisa mengakses, bukan hanya peneliti,” ujarnya.

Tim dijadwalkan masih akan menyisir sejumlah situs lain di Jawa Timur hingga akhir tahun. Hari itu, tim bergerak ke Situs Selobanteng tempat bejana batu lenvu berinskripsi berada yakni di Kecamatan Banyuglugur.  Untuk Data yang terkumpul akan diunggah ke portal resmi BRIN dan EFEO untuk publik.(PGS)

Pewarta: Pika Gustina Sari

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *