Sab. Mei 30th, 2026
JEJAK SUNYI BALUMBUNG (I)

Di tanah timur yang menyimpan cahaya tua
nama Balumbung kembali membuka mata
seperti doa yang bangkit dari abu cerita
menyentuh waktu yang lama jatuh di hening
sebelum kembali memantulkan sesuatu yang penting.

Angin membawa isyarat dari kabar
tempat prasasti tidur seperti kitab yang sabar
menunggu seseorang membaca suara samar
bahwa kekuasaan pernah runtuh tanpa gempar
dan kesetiaan berdiri sendiri di tengah hambar.

Balumbung pun bicara lewat sunyi batu
mengisyaratkan langkah yang pernah terpadu
antara manusia dan kekuasaan yang rapuh itu
seolah mengingatkan pada siapa pun yang ragu
bahwa kehilangan kadang adalah jalan menuju.

Besuki, 9 Desember 2025

JEJAK SUNYI BALUMBUNG (II)

Pada tahun yang redup dalam angka
prasasti itu mencatat nama yang nyaris sirna
seorang penguasa kecil yang menjaga sisa kuasa
saat Majapahit goyah dan mencari dirinya
di antara debu yang tak setia pada siapa pun juga.

Balumbung menjadi saksi pada malam panjang
ketika doa berdiri diam di antara bayang
mencari tuhan-tuhan yang pernah terang
lalu tenggelam dan kembali sebagai ruang
yang mengajarkan umatnya arti hilang.

Dari timur Jawa yang jauh
suara masa lalu bergulir seperti keluh
namun tetap lembut seperti bisik yang teduh
mengajarkan bahwa sejarah tak pernah angkuh
ia hanya ingin didengar, meski berakhir rapuh.

Besuki, 9 Desember 2025

JEJAK SUNYI BALUMBUNG (III)

Di balik gemerisik ladang dan pasir asin
Balumbung menyimpan luka yang tak ingin dibikin
tentang kekosongan yang datang tanpa angin
ketika tahta runtuh pelan seperti daun ringkih
dan manusia mencari arah dalam gelap yang pilih-pilih.

Ada sesuatu yang kembali dari masa dahulu
seperti langkah yang mencari tuhan di tubuh batu
menyentuh prasasti yang menua tanpa keliru
membaca nama-nama yang dulu begitu jemu
menjaga negeri yang goyah menahan waktu.

Balumbung bukan hanya tempat yang sunyi
ia semacam cermin bagi siapa pun yang ingin mengerti
bahwa kekuasaan hanyalah bayang yang pergi
dan hanya kesetiaan yang tinggal dalam hati
meski dunia terbelah menjadi ambisi dan iri.

Besuki, 9 Desember 2025

JEJAK SUNYI BALUMBUNG (IV)

Di fajar terakhir, Balumbung berbicara lirih
mengirimkan pesan dari masa yang perih
bahwa setiap kekuasaan akan kembali bersih
ketika manusia meletakkannya dalam kasih
dan menerima riwayat sebagai sesuatu yang jernih.

Nama-nama tua kembali mengapung di udara
mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita
tetapi perjalanan batin yang mencari cahaya
di sela retakan bangsa yang pernah terluka
dan tetap berdiri meski tak diingat siapa.

Balumbung akhirnya menjadi semacam doa
yang mengalir dari tanah menuju cakrawala
seakan membisik pada Situbondo yang muda
bahwa hilang tak selalu berarti tiada
kadang justru membuka jalan menuju makna.

Besuki, 9 Desember 2025

GALIH P. WIDODO adalah seorang guru di sekolah dasar sekaligus penyair yang aktif menumbuhkan ekosistem sastra di Situbondo. Berkarya di Dewan Kesenian Situbondo melalui Divisi Sastra serta mendirikan Rumah Pena Sastra–Besuki, juga menggagas Tadarus Puisi Hari Jadi Besuki. Dalam dunia kepenulisan, menerbitkan antologi puisi tunggal berjudul: Pelukis Malam (2019), Menyapa Rindu (2019), dan Di Puncak Sunyi (2019), serta berkontribusi dalam berbagai antologi bersama, termasuk BBDS (Bulan-bulan dalam Sajak), Mojokerto (2018), Sastra Timur Jawa (2019), Semesta Ingatan (2025), Antologi Puisi Geothermal Nasional (2025), Situbondo dalam Ingatan (2025), dan banyak antologi lainnya yang pernah diikuti. Selain itu, Galih pernah mengikuti forum-forum sastra bergengsi seperti Temu Penulis Jawa Timur (2018) dan Muktamar Sastra (2018) dalam berproses kreatif dan dinamika sastra Indonesia. Karya-karyanya dikenal lembut dan kontemplatif, sarat spiritualitas serta nilai kemanusiaan. Baginya, menulis adalah jalan merawat jiwa sebagai ikhtiar sunyi yang menumbuhkan empati, memperhalus rasa, dan mengajak pembaca kembali menengok kedalaman batin di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

Baca Juga: https://suarabalumbung.com/trotoar-untuk-siapa/

By redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *