Sab. Mei 30th, 2026

Oleh: Irwan Kurniadi

Suasana di jalan utama wilayah Asembagus era kolonial Hindia Belanda (Foto: Nicolas Adam Collection)

Asembagus, sebuah nama yang telah dikenal sejak lama, namun apa yang sebenarnya terkandung di balik nama tersebut? Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang eksistensi kewilayahan Asembagus yang terletak di wilayah Kabupaten Situbondo, Provinsi  Jawa Timur dan bagaimana nama tersebut telah berkembang sepanjang sejarah.

Prasasti 1377 Syaka: Awal Mula Asembagus

Prasasti Widoropasar berangka tahun 1377 Syaka (1455 Masehi) merupakan salah satu bukti tertulis tertua. Meski tidak secara tekstual memuat nama Asembagus, namun dokumen Belanda mengidentifikasi  keletakan prasasti tersebut.  Isi prasasti tersebut telah aus dan tidak jelas, analisis menunjukkan bahwa prasasti tersebut kemungkinan besar merupakan batas sebuah wilayah Sima/desa. Letaknya saat ini masih insitu yaitu di Kecamatan BanyuputihPenyebutan “Asembagoes” dalam dokumen Belanda (VBG 1891) menunjukkan bahwa nama Asembagus telah eksis sejak lama.

Prasasti Widoropasar.

 

Dokumen era Hindia Belanda yang menyebutkan keletakan Prasasti Widoropasar di wilayah Asembagus.

Eksistensi Kewilayahan Asembagus

Namun, yang kita lihat bukanlah hanya nama Asembagus, melainkan eksistensi kewilayahan yang sebenarnya. Analoginya, seperti seseorang yang lahir pada tahun 1980 dengan nama Misto, lalu pada tahun 2009 dikenal atau berganti nama dengan nama baru: Miftah. Apakah lantas Miftah dinyatakan lahir tahun 2009? Tentu saja tidak. Begitulah, eksistensi kewilayahan Asembagus, jauh sebelum tertera sebagai sebuah nama wilayah, tentunya sebagai sebuah daerah yang bertuan.

Balumbang: Toponimi Asembagus Klasik

Jika kita korelasikan dengan tutur (M.Daroen 1982), wilayah Asembagus klasik disebut “Balumbang”. Ini toponimi dari “Balumbung”, yang mungkin bisa memahami, seperti mata air Sadiyemi yang letaknya di arah barat laut prasasti Widoropasar, bukan sekedar mata air. Diksi: Balumbang bisa disematkan pada mata air, danau kecil bahkan rawa.

Kronologi dan Acuan

– Balumbung- Kadipaten masa Majapahit (Balumbang- dialektika lokal)
– Balangghuan -Dusun di Desa Sumberwaru
– Sumberwaru (kawedanan masa kolonial) beribukota Asembagus
– Asembagus (desa)
– Asembagus (kecamatan)
– Asembagus (eks wilayah pembantu bupati yang membawahi 4 kecamatan, yakni Asembagus, Jangkar, Banyuputih, dan Arjasa).

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa Asembagus memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, dan nama tersebut telah berkembang sepanjang waktu.(ik)

Sumber:

Makalah Sejarah dan Kebudayaan Asembagus, M. Daroen, 1984

VBG 1891, M.Nijhoff

Nicolas Adam Collection

Jejak Majapahit di Kabupaten Situbondo, Irwan Rakhday, 2019

*Penulis adalah pemerhati sejarah Situbondo

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *