Oleh M. Basyir Zubair
- RH Muhammad Rusjdi dan Istri
Prolog: Pulang ke Rumah yang Bukan Rumah
Pada musim gugur 1906, kapal yang membawa Christiaan Snouck Hurgronje berlabuh di pelabuhan Rotterdam. Ia turun dengan langkah yang lebih berat daripada saat ia berangkat tujuh belas tahun yang lalu. Rambutnya sudah mulai memutih di pelipis. Wajahnya lebih kurus, kulitnya gelap terbakar matahari tropis. Matanya yang dulu penuh dengan rasa ingin tahu dan ambisi, kini tampak lelah dan sedikit kosong.
Tidak ada yang menyambutnya dengan meriah. Tidak ada istri yang memeluknya di dermaga. Tidak ada anak yang berlari menghampirinya dengan tawa riang. Ia pulang sendirian, seperti kebanyakan pria kolonial yang meninggalkan keluarga pribuminya di tanah jajahan dan kembali ke “tanah air” yang sudah lama tidak mereka kenal.
Snouck naik kereta menuju Leiden, kota tempat ia memulai petualangan intelektualnya lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Kota itu tidak banyak berubah, kanal-kanal yang tenang, gedung-gedung bata merah yang kokoh, menara-menara gereja yang menjulang. Tetapi Snouck sendiri sudah sangat berubah. Ia bukan lagi mahasiswa teologi yang idealis. Ia bukan lagi pemuda yang bermimpi memahami Islam dengan tulus. Ia kini adalah pria yang tahu terlalu banyak, tentang kekerasan, tentang pengkhianatan, tentang harga dari ilmu pengetahuan yang dijual kepada kekuasaan.
Namun Leiden menyambutnya dengan kehormatan besar. Universitas Leiden, institusi yang telah memberinya gelar doktor cum laude pada tahun 1880, kini mengangkatnya sebagai Profesor Bahasa Arab dan Institusi Islam, menggantikan gurunya sendiri, Professor M.J. de Goeje, yang telah pensiun. Ini adalah posisi paling bergengsi dalam studi Islam di seluruh Eropa.
Snouck menerima posisi itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ini adalah puncak karier akademis yang selama ini ia impikan. Di sisi lain, ia tahu bahwa reputasinya di dunia akademis dibangun di atas darah orang-orang Aceh yang ia khianati.
Apakah ia bisa hidup dengan itu? Apakah ia bisa mengajar tentang Islam dengan mulut yang sama yang pernah memberikan nasihat kepada Van Heutsz untuk membunuh para ulama?
Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu hanyalah: ia harus melanjutkan hidup. Dan melanjutkan hidup berarti mengubur masa lalu dan membangun identitas baru sebagai “Profesor Snouck Hurgronje, sarjana terhormat Leiden”, bukan “Abdul Ghaffar, suami Sangkana dan Sadijah, ayah dari lima anak pribumi yang tidak diakui”.
Bagian I: Witte Singel dan Pernikahan Ketiga (1906-1919)
Setibanya di Leiden, Snouck menyewa rumah di Witte Singel, sebuah jalan yang tenang di tepi kanal, tidak jauh dari kampus universitas. Rumah itu sederhana tetapi nyaman, dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke air dan perpustakaan pribadi yang mulai ia isi dengan buku-buku Arab dan manuskrip yang ia bawa dari Hindia Belanda.
Ia hidup sendirian selama empat tahun pertama, menulis, mengajar, dan terus menjadi penasihat jarak jauh untuk pemerintah kolonial. Setiap minggu, ia menerima laporan rahasia dari Batavia tentang perkembangan politik Islam di Hindia Belanda, dan ia menulis tanggapan dan rekomendasi yang dikirim kembali melalui surat diplomatik. Meskipun ia sudah tidak tinggal di sana, pengaruhnya terhadap kebijakan kolonial tetap sangat besar hingga tahun 1933.
Namun kehidupan sendirian itu tidak berlangsung lama. Pada tahun 1910, dalam usia lima puluh tiga tahun, Snouck menikah untuk ketiga kalinya, kali ini dengan Ida Maria Oort, seorang perempuan Belanda berusia tiga puluh tahun dari keluarga sarjana Kristen terkemuka di Leiden.
Keluarga Oort adalah keluarga akademis yang sangat terhormat. Ayah Ida Maria, Henricus Oort (1836-1927), adalah profesor teologi dan ahli Perjanjian Lama yang terkenal. Kakaknya, Henry Ferguson Oort (1867-1928), adalah ahli hukum. Keluarga ini memiliki hubungan kekerabatan dengan Professor M.J. de Goeje, guru Snouck melalui pernikahan silang di generasi sebelumnya.
Dengan menikahi Ida Maria, Snouck tidak hanya mendapatkan istri, tetapi juga legitimasi sosial penuh di kalangan elit akademis Leiden. Ia kini menjadi bagian dari jaringan keluarga sarjana yang paling berpengaruh di Belanda. Pernikahan ini juga “menghapus” masa lalunya di Hindia Belanda, setidaknya di mata publik Belanda.
Tidak ada yang tahu atau setidaknya tidak ada yang berani bertanya tentang dua perempuan Sunda yang pernah menjadi istrinya. Tidak ada yang tahu bahwa di Bandung, Siti Sadijah masih hidup sebagai janda yang setia, menunggu surat dari suaminya yang tidak pernah akan kembali. Tidak ada yang tahu bahwa di Ciamis dan Palembang, anak-anak Snouck tumbuh dengan nama keluarga lain, bekerja sebagai pegawai rendah kolonial, dan hidup dengan identitas yang terpecah.
Dari pernikahan dengan Ida Maria, Snouck mendapatkan satu anak perempuan: Christien Snouck Hurgronje (lahir 1911), yang kelak menikah dengan seorang pejabat kolonial bernama Liefrinck. Christien ini tidak seperti saudara-saudara tirinya di Hindia Belanda, tumbuh dengan segala privilege seorang anak profesor Eropa: pendidikan terbaik, kehidupan sosial yang gemilang, dan warisan keluarga yang terhormat.
Pada tahun 1919, keluarga Snouck pindah ke rumah yang lebih besar dan lebih megah: Rapenburg 61, sebuah rumah mewah abad ke-18 dengan fasade yang indah dan balkon menghadap ke kanal Rapenburg, salah satu kanal paling bergengsi di Leiden. Rumah itu menjadi pusat intelektual, tempat pertemuan para sarjana, tempat kuliah privat, dan tempat diskusi tentang Timur Tengah dan Islam.
Namun di dalam rumah megah itu, ada rahasia yang tidak pernah dibicarakan: di lemari-lemari kayu mahoni tersimpan korespondensi rahasia dengan pemerintah kolonial, foto-foto dari Mekkah dan Aceh, dan surat-surat dari Hasan Mustapa di Bandung yang terus menanyakan kabar anak-anak Snouck.
Snouck tidak pernah memamerkan surat-surat itu kepada tamunya. Ia tidak pernah bercerita tentang Sangkana yang mati muda atau Sadijah yang setia menunggu. Rumah di Rapenburg 61 adalah teater identitas, tempat di mana Snouck memainkan peran sebagai profesor terhormat, bukan sebagai laki-laki yang pernah hidup di dua dunia dan mengkhianati keduanya.
Bagian II: Profesor, Rektor, dan Suara Melawan Rasisme (1906-1927)
Sebagai profesor, Snouck sangat produktif dan sangat dihormati. Ia mengajar mata kuliah tentang bahasa Arab, sejarah Islam, hukum Islam, dan etnografi Timur Tengah dan Nusantara. Mahasiswa-mahasiswanya datang dari seluruh Eropa, tidak hanya dari Belanda, tetapi juga dari Jerman, Prancis, Inggris, dan bahkan Amerika Serikat.
Snouck dikenal sebagai dosen yang brilian tetapi menuntut. Ia tidak suka mahasiswa yang malas atau yang hanya ingin mendapatkan gelar tanpa benar-benar memahami materi. Ia sering berkata: “Jika kalian ingin mempelajari Islam hanya dari buku, lebih baik kalian menjadi pustakawan. Tetapi jika kalian ingin benar-benar memahami Islam, kalian harus hidup bersama umat Islam, makan bersama mereka, berdoa bersama mereka, dan mendengarkan cerita mereka.”
Ironi dari pernyataan itu sangat menyakitkan: Snouck memang pernah hidup bersama umat Islam, tetapi ia menggunakan kedekatan itu untuk menghancurkan mereka.
Pada tahun 1914-1915, Snouck diundang untuk memberikan kuliah umum di berbagai universitas di Amerika Serikat, termasuk Columbia University di New York. Kuliah-kuliah itu kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 1916 dengan judul Mohammedanism: Lectures on Its Origin, Its Religious and Political Growth, and Its Present State.
Buku ini menjadi sangat kontroversial. Di dalamnya, Snouck menulis dengan nada yang sangat kritis terhadap Islam. Ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad “menciptakan” Islam untuk tujuan politik, bahwa Alquran adalah karya manusia yang disusun secara tidak teratur, dan bahwa pan-Islamisme adalah ancaman bagi peradaban Barat.
Buku ini mendapat pujian dari kalangan orientalis Barat yang memang anti-Islam, tetapi juga mendapat kritik tajam dari sarjana Muslim dan bahkan dari beberapa sarjana Barat yang lebih progresif. Mereka menuduh Snouck telah mengkhianati kepercayaan umat Islam yang pernah menerimanya sebagai “Abdul Ghaffar”.
Namun yang menarik, Snouck juga memiliki sisi yang anti-rasisme yang sangat kuat. Pada tahun 1922, ia terpilih sebagai Rektor Universiteit Leiden, jabatan tertinggi di universitas itu. Dalam pidato inaugurasinya yang berjudul De Islâm en het rassenprobleem (“Islam dan Masalah Rasial”), Snouck dengan keras mengecam rasisme dan segregasi rasial di Afrika Selatan dan Amerika Serikat.
Ia mengatakan:
“Tidak ada dasar ilmiah untuk mengatakan bahwa satu ras lebih unggul daripada ras lain. Klaim superioritas kulit putih adalah kebohongan yang dibuat untuk membenarkan eksploitasi dan penindasan. Islam, dengan semua kekurangannya, setidaknya mengajarkan kesetaraan di hadapan Tuhan,bsesuatu yang sering dilupakan oleh orang-orang Kristen Eropa.”
Pidato ini mengejutkan banyak orang. Bagaimana mungkin seorang penasihat kolonial yang telah membantu Belanda menaklukkan Aceh kini berbicara tentang kesetaraan rasial?
Jawabannya mungkin terletak pada perkembangan pemikiran Snouck sepanjang hidupnya. Seiring bertambahnya usia, ia mulai meragukan banyak hal yang dulu ia yakini. Ia mulai melihat bahwa kolonialisme, meskipun ia dulu percaya bahwa itu adalah “misi beradab”, sebenarnya adalah eksploitasi yang dibungkus dengan retorika kemanusiaan.
Namun penyesalannya datang terlambat. Aceh sudah takluk. Ribuan orang sudah mati. Dan sistem yang ia ciptakan sudah menjadi bagian permanen dari struktur kolonial Hindia Belanda.
Pada tahun 1927, dalam usia tujuh puluh tahun, Snouck pensiun dari jabatan profesor, meskipun ia tetap diangkat sebagai profesor luar biasa untuk bahasa Arab modern dan bahasa Aceh. Ia terus menulis, terus memberikan nasihat kepada pemerintah (hingga 1933), dan terus menerima tamu-tamu dari seluruh dunia yang ingin belajar darinya.
Bagian III: Surat-Surat dari Bandung dan Beban Rahasia (1906-1936)
Selama tiga puluh tahun tinggal di Leiden (1906-1936), Snouck tidak pernah benar-benar memutuskan hubungan dengan keluarganya di Hindia Belanda. Ia terus berkorespondensi dengan Hasan Mustapa sahabatnya sejak Mekkah, yang juga menjadi saksi pernikahannya dengan Siti Sadijah.
Korespondensi mereka yang kini tersimpan dalam Cod. Or. 8952 di Perpustakaan Universitas Leiden berlangsung dari tahun 1894 hingga 1923. Dalam surat-surat itu, Hasan Mustapa memberikan laporan rutin tentang kondisi anak-anak Snouck: bagaimana Emah sudah menikah, bagaimana Umar bekerja sebagai juru tulis, bagaimana Ibrahim ditempatkan di Palembang, bagaimana Raden Jusuf tumbuh menjadi anak yang cerdas.
Snouck membalas dengan instruksi dan uang. Ia mengirimkan dana tambahan untuk pendidikan anak-anaknya, meminta Hasan Mustapa mengawasi mereka dari jauh, dan yang paling penting memastikan mereka tidak pernah menggunakan nama “Snouck Hurgronje”.
Dalam salah satu surat (1911), Hasan Mustapa menulis dalam bahasa Arab:
“Anak-anakmu sehat dan tumbuh dengan baik. Emah sudah besar dan sedang dijodohkan dengan seorang pemuda baik-baik. Jusuf pandai di sekolah dan sangat mirip denganmu cerdas, serius, dan suka membaca. Mereka semua mengingatmu dalam doa-doa mereka. Sadijah bertanya kapan kau akan kembali. Aku tidak tahu harus menjawab apa.”
Snouck tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Ia hanya membalas dengan singkat:
“Pastikan mereka tidak menggunakan nama saya. Pastikan mereka tidak datang ke Belanda. Ini demi masa depan mereka. Kirimkan salam saya kepada Sadijah.”
“Salam” bukan “cinta”. “Masa depan mereka” bukan “masa depan kita”. Kata-kata itu dingin, formal, dan menjaga jarak.
Namun ada satu momen yang menunjukkan bahwa Snouck tidak sepenuhnya tanpa perasaan. Pada tahun 1918, ketika Raden Jusuf lulus dari HBS (sekolah menengah Belanda) dengan nilai cemerlang dan diterima di sekolah kedokteran di Belanda, Jusuf menulis surat langsung kepada ayahnya, memohon izin untuk datang ke Leiden untuk melanjutkan pendidikan.
Snouck tidak menjawab surat itu selama berbulan-bulan. Akhirnya, ia menulis surat kepada Hasan Mustapa:
“Katakan kepada Jusuf bahwa aku bangga dengan prestasinya. Tetapi ia tidak bisa datang ke Belanda. Jika ia datang, ia akan menghadapi diskriminasi yang sangat berat. Orang-orang akan melihatnya sebagai ‘Indo’ bukan Belanda, bukan Jawa, tetapi sesuatu di antara keduanya yang tidak diterima oleh siapa pun. Lebih baik ia tetap di Hindia dan membangun karier di sana. Aku akan mengirimkan uang tambahan untuk pendidikannya di Batavia.”
Apakah ini alasan yang tulus? Atau apakah ini hanya alasan untuk menutupi rasa malu Snouck jika anak pribuminya datang ke Leiden dan semua orang tahu bahwa ia pernah menikah dengan perempuan pribumi?
Kita tidak akan pernah tahu. Yang pasti, Raden Jusuf tidak pernah pergi ke Belanda. Ia menjadi polisi di Hindia Belanda dan akhirnya mencapai pangkat Komisaris Besar Polisi RI (setingkat kolonel) setelah Indonesia merdeka. Tetapi sepanjang hidupnya, ia menyimpan luka bahwa ayahnya tidak pernah mengakuinya secara publik.
Bagian IV: Wasiat, Kematian, dan Warisan yang Terbagi (1936)
Pada musim semi tahun 1936, kesehatan Snouck mulai menurun. Ia sudah berusia tujuh puluh sembilan tahun, tua untuk ukuran zamannya. Ia menderita berbagai penyakit kronis yang umum pada orang yang pernah tinggal lama di daerah tropis: malaria kronis, gangguan hati, dan radang sendi yang parah.
Pada 26 Juni 1936, Christiaan Snouck Hurgronje wafat di rumahnya di Rapenburg 61, dikelilingi oleh istrinya Ida Maria dan putrinya Christien. Kematiannya diumumkan di semua surat kabar besar di Belanda, dan universitas-universitas di seluruh Eropa mengirimkan ucapan belasungkawa.
Ia dimakamkan pada 29 Juni 1936 di Groenesteeg Cemetery di Leiden, dalam makam keluarga (basement tomb 168B, box B). Pemakamannya dihadiri oleh ratusan orang, profesor, pejabat pemerintah, diplomat, dan mahasiswa-mahasiswanya.
Namun tidak ada yang hadir dari Hindia Belanda. Tidak ada Siti Sadijah yang menangis di sisi pusaranya. Tidak ada Raden Jusuf yang membacakan doa. Tidak ada Emah, Umar, Aminah, atau Ibrahim yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Mereka tidak diundang. Mereka bahkan tidak diberitahu bahwa ayah mereka telah wafat, setidaknya tidak secara langsung. Yang mereka terima adalah surat dari notaris Coeberg di Leiden, yang memberitahu mereka bahwa dalam wasiat Christiaan Snouck Hurgronje, mereka masing-masing mendapatkan 5.000 gulden.
Jumlah itu sangat besar untuk ukuran pegawai pribumi pada masa itu, setara dengan beberapa tahun gaji. Tetapi bandingkan dengan apa yang diwariskan kepada Christien, putrinya dari Ida Maria: seluruh perpustakaan pribadi Snouck (10.000 buku dan 1.100 manuskrip), seluruh koleksi foto dan rekaman suara dari Mekkah dan Hindia Belanda, dan rumah di Rapenburg 61.
Ketidaksetaraan itu menyakitkan. Anak-anak dari Sangkana dan Sadijah mendapat uang cukup untuk hidup, tetapi tidak cukup untuk mengubah nasib mereka. Sementara Christien mendapat warisan intelektual dan budaya yang tidak ternilai harganya.
Raden Jusuf menggunakan uang warisannya untuk membangun tembok rumah di Jalan Kalipah Apo, Bandung, sebuah jalan yang dinamai sesuai dengan nama kakeknya, Muhammad Su’eb. Rumah itu masih berdiri hingga hari ini, menjadi saksi bisu dari sejarah keluarga yang rumit.
Ibrahim, yang bekerja di Palembang, menggunakan uangnya untuk membeli tanah kecil dan membangun rumah sederhana untuk keluarganya. Ia tidak pernah berbicara banyak tentang ayahnya bahkan kepada anak-anaknya sendiri. Luka itu terlalu dalam.
Sementara itu, di Leiden, rumah di Rapenburg 61 diwariskan kepada Universitas Leiden dan menjadi Snouck Hurgronjehuis, rumah yang menyimpan Oosters Instituut (Institut Oriental) hingga tahun 1980-an. Kini rumah itu menjadi kantor Leiden University Fund.
Semua koleksi Snouck, buku, manuskrip, foto, rekaman suara, surat-surat pribadi, kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dan sebagian telah didigitalkan sehingga bisa diakses oleh peneliti dari seluruh dunia.
Tetapi ada satu hal yang hilang: surat-surat Snouck kepada Siti Sadijah.
Menurut kesaksian keluarga, Sadijah menyimpan surat-surat itu dengan sangat hati-hati selama puluhan tahun. Surat-surat itu selalu dimulai dengan kalimat: “Kepada Putri Sundaku yang Tercinta…” dan berisi kabar tentang kehidupan Snouck di Leiden, tentang cuaca di Belanda, tentang buku-buku yang ia tulis, dan sesekali tentang kerinduan meskipun tidak pernah tentang janji untuk kembali.
Namun surat-surat itu hilang setelah Perang Dunia II. Mungkin dibakar oleh tentara Jepang yang menduduki Bandung (1942-1945). Mungkin dicuri. Atau mungkin, dan ini yang paling mungkin sengaja dimusnahkan oleh keluarga untuk menghapus jejak hubungan yang memalukan itu.
Jika surat-surat itu masih ada, mereka akan menjadi dokumen sejarah yang sangat berharga, sebuah jendela ke dalam jiwa Snouck yang sebenarnya, sebuah bukti tentang bagaimana ia benar-benar merasakan cintanya terhadap Sadijah, dan mungkin juga sebuah pengakuan penyesalan atas pilihan-pilihan yang ia buat.
Tetapi surat-surat itu sudah hilang. Dan bersama hilangnya surat-surat itu, hilang pula kesempatan untuk benar-benar memahami sisi manusiawi dari Christiaan Snouck Hurgronje.
Bagian V: Warisan yang Hidup hingga Kini
Tiga puluh tahun setelah Snouck wafat, pada tahun 1966, seorang peneliti muda Belanda bernama Dr. P. Sj. van Koeningsveld mulai meneliti kehidupan pribadi Snouck Hurgronje. Ia bertemu dengan Harry Jusuf, cucu Snouck dari jalur Raden Jusuf di Amsterdam. Harry bercerita tentang keluarga di Bandung yang tidak pernah diakui, tentang wasiat yang tidak adil, tentang luka yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Van Koeningsveld kemudian pergi ke Bandung dan bertemu langsung dengan Raden Jusuf, yang saat itu sudah berusia delapan puluh tahun. Dalam wawancara yang panjang, Raden Jusuf menceritakan semua yang ia ingat: tentang ibunya Sadijah yang setia, tentang larangan menggunakan nama Snouck Hurgronje, tentang surat-surat yang hilang, tentang uang warisan yang ia gunakan untuk membangun tembok rumah.
Penelitian van Koeningsveld dipublikasikan pada tahun 1989 dalam buku Snouck Hurgronje dan Islam (diedit oleh W.A.L. Stokhof, diterbitkan oleh Girimukti Pasaka, Bandung). Buku ini adalah yang pertama kali mengungkap secara detail tentang kehidupan pribadi Snouck yang tersembunyi.
Sejak saat itu, mulai muncul kesadaran bahwa sejarah kolonialisme bukan hanya tentang perang dan politik, tetapi juga tentang kehidupan pribadi yang hancur, tentang keluarga yang terpecah, tentang anak-anak yang tumbuh tanpa identitas.
Kini, di Indonesia, keturunan Snouck Hurgronje masih hidup, cucu-cucu dan cicit dari Raden Jusuf, Ibrahim, Umar, Emah, dan Aminah. Mereka adalah orang-orang Indonesia biasa: guru, pegawai negeri, pengusaha, petani. Tidak ada yang menggunakan nama Snouck Hurgronje. Tidak ada yang berbangga dengan hubungan itu.
Namun mereka juga tidak melupakan sejarah mereka. Dalam reunian keluarga, cerita tentang “kakek yang orang Belanda” masih diceritakan dengan nada yang campur aduk antara bangga (karena ia adalah sarjana besar) dan malu (karena ia tidak pernah mengakui mereka).
Dan di Aceh, warisan Snouck adalah warisan yang lebih pahit lagi. Pulau Rubiah, yang dulu menjadi karantina haji berdasarkan rekomendasinya, kini tinggal reruntuhan. Sistem politik Islam kolonial yang ia ciptakan masih terasa pengaruhnya hingga hari ini dalam hubungan antara negara dan Islam di Indonesia.
Namun ada juga yang melihat Snouck dengan cara yang berbeda. Beberapa sarjana Muslim kontemporer seperti Nurcholish Madjid (1939-2005) dan Abdurrahman Wahid (1940-2009), mengatakan bahwa meskipun Snouck adalah agen kolonialisme, ia juga adalah sarjana yang memahami Islam dengan sangat mendalam, dan karyanya masih bisa dipelajari dengan kritis sebagai sumber pengetahuan tentang Islam di Nusantara abad ke-19.
Mereka mengatakan: “Kita tidak harus mencintai Snouck. Tetapi kita harus belajar darinya, baik dari ilmunya maupun dari kesalahannya.”
Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari seluruh kisah Snouck Hurgronje: bahwa pengetahuan tanpa etika adalah bencana, bahwa cinta tanpa keadilan adalah pengkhianatan, dan bahwa sejarah harus dipelajari dengan jujur, tidak untuk memuja atau mengutuk, tetapi untuk memahami dan belajar agar kesalahan yang sama tidak terulang.
Epilog: Akhir Sebuah Riwayat, Awal Sebuah Refleksi
Di akhir perjalanan empat seri ini, kita kembali pada pertanyaan yang sama: siapakah Christiaan Snouck Hurgronje?
Ia adalah anak pendeta Protestan yang meninggalkan iman Kristen untuk mempelajari Islam.
Ia adalah ilmuwan brilian yang memahami Islam lebih dalam daripada kebanyakan Muslim pada zamannya.
Ia adalah penyamar yang menjadi “Abdul Ghaffar” untuk masuk ke Mekkah.
Ia adalah suami dari tiga perempuan, dua Muslim Sunda dan satu Kristen Belanda.
Ia adalah ayah dari enam anak, lima di Hindia Belanda yang tidak ia akui, dan satu di Belanda yang ia banggakan.
Ia adalah arsitek strategi kolonial yang mengakhiri Perang Aceh dengan puluhan ribu korban.
Ia adalah profesor terhormat yang mengajar generasi sarjana tentang Islam.
Ia adalah kritikus rasisme yang berbicara tentang kesetaraan di hadapan Tuhan.
Ia adalah manusia yang kompleks, mampu mencintai dan mengkhianati, mampu memahami dan menghancurkan, mampu empati dan manipulasi.
Dan warisannya adalah warisan yang sama kompleksnya:
Di Leiden, ia adalah pahlawan intelektual, sarjana yang membawa pengetahuan tentang Timur ke Barat.
Di Aceh, ia adalah pengkhianat, orang yang menyamar sebagai Muslim untuk menghancurkan perlawanan umat.
Di Bandung, ia adalah ayah yang tidak bertanggung jawab, laki-laki yang meninggalkan keluarganya demi karier.
Di dunia akademis, ia adalah pendiri studi Islam modern, orang yang mengubah cara Barat mempelajari Islam.
Di sejarah Indonesia, ia adalah simbol dari kolonialisme yang halus, dominasi yang tidak menggunakan senjata tetapi menggunakan pengetahuan.
Maka ketika kita berdiri di depan makamnya di Groenesteeg Cemetery, Leiden, atau ketika kita berdiri di tengah reruntuhan Pulau Rubiah di Aceh, atau ketika kita berjalan di Jalan Kalipah Apo di Bandung, kita tidak sedang melihat satu orang, tetapi kita sedang melihat cermin dari dilema kemanusiaan yang universal.
Bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjadi berkah atau kutukan?
Bagaimana cinta bisa hidup berdampingan dengan pengkhianatan?
Bagaimana seseorang bisa menjadi pahlawan bagi satu pihak dan penjahat bagi pihak lain?
Bagaimana kita bisa hidup dengan konsekuensi dari pilihan-pilihan kita?
Snouck Hurgronje tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara terbuka. Ia membawa jawabannya ke dalam kubur. Tetapi warisannya dalam bentuk buku, dokumen, foto, sistem politik, dan keturunan biologis, masih hidup dan terus berbicara kepada kita.
Dan tugas kita, sebagai pewaris sejarah yang rumit ini, adalah tidak untuk memuja atau mengutuk, tetapi untuk memahami dan belajar. Memahami bahwa sejarah tidak pernah sederhana. Memahami bahwa orang-orang yang kita anggap sebagai pahlawan mungkin juga adalah penjahat. Memahami bahwa sistem yang kita anggap normal hari ini mungkin dibangun di atas darah dan air mata orang-orang yang tidak berdaya.
Dan dari pemahaman itu, kita bisa membangun masa depan yang lebih baik, masa depan di mana pengetahuan digunakan untuk pembebasan, bukan untuk dominasi; di mana cinta dihormati dengan tanggung jawab, bukan dikhianati dengan kepengecutan; di mana sejarah diingat dengan jujur, bukan dibungkam dengan kebohongan.
Christiaan Snouck Hurgronje atau Abdul Ghaffar, atau Haji Belanda, atau apa pun nama yang kita gunakan untuk memanggilnya telah pergi. Tetapi pertanyaan-pertanyaan yang ia tinggalkan masih bergema hingga hari ini.
Apakah kita belajar dari kesalahannya?
Atau apakah kita mengulanginya dengan cara yang lebih halus?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu ada pada kita semua, pada generasi yang hidup di abad ke-21, yang mewarisi dunia yang dibentuk oleh orang-orang seperti Snouck Hurgronje, dan yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa sejarah yang kelam tidak terulang.
Di Bandung, Siti Sadijah wafat pada tahun 1974, hampir empat puluh tahun setelah Snouck meninggal. Ia dimakamkan sebagai Muslim yang salehah, dan di pusaranya hanya tertulis: “Siti Sadijah binti Muhammad Su’eb”. Tidak ada kata “istri Snouck Hurgronje”. Tidak ada kata “ibu Raden Jusuf”. Hanya namanya, identitas yang paling dasar, yang tidak bisa diambil oleh siapa pun.
Hingga akhir hayatnya, ia tetap setia. Ia tidak pernah menikah lagi. Ia tidak pernah marah secara terbuka kepada Snouck. Ia hanya hidup dengan tenang, dengan iman yang kuat, dengan harapan bahwa suatu hari, entah di dunia ini atau di akhirat, ia akan bertemu lagi dengan “Abdul Ghaffar” yang pernah ia cintai.
Apakah cintanya itu naif? Apakah ia hanya korban dari manipulasi seorang laki-laki Eropa yang menggunakan pernikahan sebagai alat politik? Atau apakah cintanya itu justru adalah bentuk kekuatan moral yang lebih besar, kemampuan untuk tetap mencintai meskipun dikhianati, untuk tetap setia meskipun ditinggalkan, untuk tetap percaya pada kebaikan meskipun dunia penuh dengan kekerasan?
Kita tidak bisa menjawab pertanyaan itu untuknya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghormati pilihannya, dan mengakui bahwa dalam sejarah kolonialisme yang penuh dengan kekerasan dan pengkhianatan, ada juga orang-orang seperti Sadijah, orang-orang yang memilih untuk tetap manusiawi meskipun dunia di sekitar mereka tidak manusiawi.
Dan di Leiden, rumah di Rapenburg 61 masih berdiri megah. Kini ia menjadi kantor administrasi universitas, dan tidak ada yang ingat bahwa di rumah itu dulu tinggal seorang profesor yang memiliki dua kehidupan, satu di depan publik sebagai sarjana terhormat, dan satu di belakang layar sebagai laki-laki yang menyimpan rahasia tentang keluarga yang tidak pernah ia akui.
Jika dinding-dinding rumah itu bisa berbicara, mereka akan menceritakan tentang malam-malam ketika Snouck duduk sendirian di perpustakaannya, membaca surat dari Hasan Mustapa tentang anak-anaknya di Bandung, lalu menulis balasan yang dingin dan formal. Mereka akan menceritakan tentang percakapan-percakapan dengan Ida Maria, istrinya yang Eropa, yang mungkin tidak pernah tahu atau pura-pura tidak tahu tentang Sangkana dan Sadijah.
Mereka akan menceritakan tentang foto-foto yang tersimpan di lemari rahasia, foto Sangkana yang cantik dengan kebaya, foto Sadijah yang masih sangat muda saat menikah, foto anak-anak yang tidak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun.
Tetapi dinding-dinding itu tidak berbicara. Dan rahasia-rahasia itu tetap tersembunyi, sampai van Koeningsveld datang pada tahun 1960-an dan mulai menggali kebenaran yang telah lama dikubur.
Catatan Penutup: Warisan untuk Generasi Mendatang
Sekarang, di tahun 2026, hampir sembilan puluh tahun setelah kematian Snouck Hurgronje, kita memiliki jarak yang cukup untuk melihat warisannya dengan lebih objektif. Kita tidak lagi terjebak dalam propaganda kolonial yang memuji-muji Snouck sebagai pahlawan. Kita juga tidak terjebak dalam narasi nasionalis yang terlalu sederhana yang mengutuk Snouck sebagai iblis tanpa nuansa.
Kita bisa melihat dia sebagai manusia yang kompleks, dengan segala kebrilianan dan kekejiannnya, dengan segala cintanya dan pengkhianatannya, dengan segala kontribusinya dan kejahatan-kejahatannya.
Dan dari pemahaman yang kompleks itu, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting.
Ilmu Pengetahuan Harus Dibimbing oleh Etika
Snouck adalah bukti hidup bahwa kepintaran tanpa etika adalah berbahaya. Ia sangat cerdas, sangat terpelajar, dan sangat memahami Islam, tetapi ia menggunakan semua pengetahuan itu untuk tujuan yang salah. Maka tugas kita adalah memastikan bahwa generasi sarjana berikutnya tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki kompas moral yang kuat.
Kekuasaan Selalu Mencari Legitimasi Intelektual
Pemerintah kolonial Belanda tidak bisa menaklukkan Aceh hanya dengan senjata. Mereka membutuhkan legitimasi intelektual, dan Snouck memberikan itu kepada mereka. Ia memberikan narasi bahwa perang di Aceh bukan perang melawan Islam, tetapi hanya perang melawan “Islam politik yang fanatik”. Dengan narasi itu, Belanda bisa terus berperang tanpa dianggap sebagai musuh agama.
Maka kita harus waspada: setiap rezim yang otoriter akan selalu mencari ilmuwan, sarjana, atau intelektual yang bisa memberikan legitimasi kepada kekerasan mereka. Tugas kita adalah menolak untuk menjadi orang-orang itu.
Sejarah Pribadi Sama Pentingnya dengan Sejarah Politik
Selama puluhan tahun, sejarah Snouck Hurgronje hanya diceritakan sebagai sejarah politik dan intelektual, tentang buku-bukunya, tentang strateginya, tentang kontribusinya pada orientalisme. Tetapi sejarah pribadinya tentang Sangkana, Sadijah, dan anak-anaknya sama pentingnya, karena ia menunjukkan sisi manusiawi dan tidak manusiawi dari kolonialisme.
Maka kita harus terus menggali cerita-cerita pribadi dari masa kolonial, cerita tentang keluarga yang terpecah, tentang anak-anak yang tumbuh tanpa identitas, tentang perempuan yang ditinggalkan. Karena di sinilah harga sebenarnya dari kolonialisme terlihat dengan paling jelas.
Maafkan, Tetapi Jangan Lupakan
Haruskah kita memaafkan Snouck Hurgronje? Itu bukan keputusan yang bisa kita ambil, hanya Tuhan dan orang-orang yang ia sakiti yang bisa memaafkannya. Tetapi yang pasti, kita tidak boleh melupakan apa yang ia lakukan. Kita tidak boleh membiarkan sejarahnya ditulis ulang sebagai sejarah “sarjana brilian yang mencintai Islam” tanpa menyebutkan bahwa ia juga adalah “arsitek strategi kolonial yang membunuh ribuan orang”.
Mengingat bukan berarti membenci. Mengingat berarti memahami, agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Penutup: Di Antara Cahaya dan Bayangan
Pada akhirnya, kisah Christiaan Snouck Hurgronje adalah kisah tentang cahaya dan bayangan. Ia membawa cahaya pengetahuan dari Mekkah ke Leiden, tetapi ia juga membawa bayangan kematian dari Leiden ke Aceh. Ia mencintai Islam sebagai peradaban, tetapi ia menghancurkan umat Islam sebagai komunitas politik. Ia menulis tentang keindahan spiritualitas Islam, tetapi ia menggunakan pengetahuan itu untuk mengontrol dan mendominasi.
Seperti judul tulisan pertama yang saya tulis: “Cahaya yang Membelah Zaman”, Snouck memang membelah zaman. Ia membelah antara era kolonialisme brutal dan era kolonialisme yang lebih “beradab” tetapi tidak kurang berbahaya. Ia membelah antara dunia Islam yang otonom dan dunia Islam yang dikontrol oleh negara kolonial. Ia membelah antara identitas Muslim dan identitas politik.
Dan pembelahan-pembelahan itu masih kita rasakan hingga hari ini, dalam hubungan yang tegang antara negara dan agama di Indonesia, dalam trauma kolektif Aceh yang belum sembuh, dalam keluarga-keluarga campuran yang masih mencari identitas mereka.
Maka ketika kita menutup kisah ini, kita tidak menutupnya dengan jawaban yang pasti. Kita menutupnya dengan pertanyaan yang terbuka.
Bagaimana kita akan menulis sejarah kita sendiri?
Apakah kita akan menggunakan pengetahuan kita untuk membebaskan atau untuk mendominasi?
Apakah kita akan mencintai dengan bertanggung jawab atau mencintai dengan pengkhianatan?
Apakah kita akan mengingat masa lalu dengan jujur atau mengubur masa lalu dengan kebohongan?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan apakah generasi kita akan diingat sebagai generasi yang belajar dari sejarah atau sebagai generasi yang mengulangi kesalahan sejarah dengan cara yang lebih canggih.
Dan di sinilah warisan Snouck Hurgronje menjadi relevan bagi kita semua.
TAMAT
Seri 1-4 tentang Christiaan Snouck Hurgronje
Yogyakarta, 9 Januari 2026
*Penulis adalah Arkeolog UGM
DAFTAR PUSTAKA
Karya Snouck Hurgronje
Hurgronje, Christiaan Snouck. Het Mekkaansche Feest. Leiden: E.J. Brill, 1880.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Mekka in the Latter Part of the 19th Century: Daily Life, Customs and Learning. The Moslims of the East-Indian Archipelago. Leiden: E.J. Brill, 1888–1889.
Hurgronje, Christiaan Snouck. De Atjehers. Leiden: E.J. Brill, 1893–1894.
Hurgronje, Christiaan Snouck. The Achehnese. Leiden: E.J. Brill, 1906.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Verspreide Geschriften. The Hague: Martinus Nijhoff, 1923–1927.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Mohammedanism. New York: G.P. Putnam’s Sons, 1916.
Hurgronje, Christiaan Snouck. Nederland en de Islâm. Leiden: E.J. Brill, 1911.
Tentang Snouck Hurgronje
Benda, Harry J. Christiaan Snouck Hurgronje and the Foundations of Dutch Islamic Policy in Indonesia. The Journal of Modern History 30, no. 4 (1958): 338–347.
Gerlach, Julia. The Ambiguity of Colonial Knowledge. Indonesia and the Malay World 44, no. 130 (2016): 1–23.
Koeningsveld, P. Sj. van. Snouck Hurgronje en de Islam. Leiden, 1987.
Koeningsveld, P. Sj. van. Snouck Hurgronje dan Islam. Bandung: Girimukti Pasaka, 1989.
Sejarah Perang Aceh
Djik, C. van. Rebellion under the Banner of Islam. The Hague: Martinus Nijhoff, 1981.
Lombard, Denys. Kerajaan Aceh. Jakarta: Balai Pustaka, 1986.
Reid, Anthony. The Blood of the People. Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1979.
Kolonialisme dan Islam di Indonesia
Laffan, Michael Francis. Islamic Nationhood and Colonial Indonesia. London: RoutledgeCurzon, 2003.
Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford: Stanford University Press, 2001.
Teori Orientalisme dan Kolonialisme
Said, Edward W. Orientalism. New York: Pantheon Books, 1978.
Sumber Keluarga dan Lokal
Zubair, Mohammad Basyir. Di Antara Penjajah dan Penjaga. Yogyakarta, 19 Juli 2025.
