Oleh: H. Sariat Arifia

“Snouck Hurgronje itu agen intelijen.”
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu sempat berseliweran di tiktok dan mengangkat ulang kesadaran publik lagi. Bahwa Snouck yang namanya sudah akrab di kita, namun di hadapan institusi negara kepresidenan adalah benar bagian dari intelejen. Apalagi
Prabowo banyak menghabiskan karier militernya di Kopassus, di mana intelijen dan pengintaian menjadi bagian penting dari tugasnya sehingga memberinya pemahaman mendalam tentang operasi intelijen.
Bagi sebagian kalangan yang terbiasa dengan buku sejarah konvensional, kalimat itu terdengar provokatif. Selama puluhan tahun, nama Christiaan Snouck Hurgronje dicitrakan sebagai intelek, akademisi “islamolog” yang karyanya objektif ilmiah.
Namun, jika kita menyingkap tirai arsip kolonial lebih dalam dan membaca ulang sejarah dengan kacamata kritis, pernyataan ilmiah tersebut begitu naif. Snouck tidak datang untuk mencintai Nusantara. Dia datang bukan karena sukarela. Dia datang dibayar double, di Belanda di bayar dan di sini dapat bayaran lagi dari Pemerintah Hindia Belanda, sehingga ia datang sebagai “mata dan telinga” pemerintah kolonial yang berupaya keras menaklukkan Islam dengan biaya berapapun dan cara apapun.
Sebelum ke Indonesia, Snouck sudah terlebih dahulu melakukan operasi intelejen penyamaran di Mekkah. Sudah 5 tahun disana. Dia sudah memetakan jaringan para ulama, pemikiran politik mereka dan juga melalukan penggalangan bagi pihak -pihak yang mau bekerja sama untuk kepentingannya di Indonesia. Sebagai imbalannya, siapapun orang yang mau bekerja sama dengan dia, loyal tentu memperoleh uang dan kedudukan di hindia belanda.
Dalam melakukan operasi di Sunda, kita biasanya diberi suguhan berita bahwa dia menikah. Bahwa dia harus berhadapan sama pemerintah di Belanda dan seolah -olah kisahnya jadi kisah romansa.
Kita lupakan itu semua, kita awali dengan sebuah fakta dengan jenis
Operasi intelijen tertinggi dan paling ekstrim yang melibatkan pernikahan hingga memiliki anak.
Dalam dunia spionase, hal ini dikenal sebagai Deep Cover atau penyamaran total. Ini menunjukkan bahwa misi tersebut bukan sekadar pengawasan rutin, melainkan sudah menyangkut hidup mati keamanan nasional atau kelangsungan kekuasaan kolonial.
Pemberontakan pemberontakan di wilayah Sunda termasuk Banten yang berlangsung terus menerus dan tidak selesai membuat kekuasaan kolonial harus memulai operasi snouck dari kawasan ini.
Dalam istilah intelijen, identitas palsu disebut “Legend” Apabila snouck datang hanya menyamar pakai baju lokal, orang masih curiga. Kalau menikah dengan penduduk lokal, kecurigaan berkurang 50%.
Tapi kalau sampai punya anak, kecurigaan hampir hilang 100%. Siapa yang akan mencurigai seorang “Bapak” yang sedang menggendong anaknya?
Anak, dalam konteks operasi yang dingin ini, berfungsi sebagai Properti Utama untuk menyempurnakan penyamaran. Keberadaan anak membuat agen tersebut dianggap “manusia biasa” dan “bagian dari komunitas”.
“Siapa kamu?” Saya Abdul ghaffar dari Baghdad, ini anak saya. Saya kawin dengan orang lokal. Siapa mau curiga. Wah dia berarti sudah menjadi bagian sebagai keluarga. Kerjaan Ulama dan Peneliti. Top sudah. Dalam budaya kita, kalau sudah jadi keluarga walaupun salah tetap dibela. Karena dia keluarga.
Bandingkan misalnya operasi intelejen ringan, misalnya dilakukan oleh Charles Olke van der Plas.
Jika Snouck beroperasi di Jawa Barat dan Aceh, Van der Plas memainkan perannya di Jawa Timur dan Madura pada awal abad ke-20. Van der Plas adalah pejabat kolonial yang sangat fasih berbahasa Arab dan Jawa. Dia dikenal sering memakai peci ( bahkan dia memakai peci turki juga), menghadiri pengajian-pengajian, dan bergaul akrab dengan para kiai di pesantren.
Namun, di balik senyum ramah dan kefasihannya mengutip ayat, Van der Plas sedang menjalankan agenda devide et impera tingkat tinggi. Dia menggunakan kedekatan budayanya untuk memecah belah pergerakan nasional. Dia mendekati kelompok Islam tradisional untuk diadu domba dengan kelompok nasionalis sekuler atau kelompok Islam modernis.
Puncak dari kelicikan strategi Van der Plas terlihat pada masa Agresi Militer Belanda, di mana fia menjadi otak di balik pembentukan Negara Madura (negara boneka). Dia memanipulasi sentimen kedaerahan dan agama para ulama Madura untuk melawan Republik Indonesia.
Seperti Snouck, Van der Plas menggunakan “persahabatan” dan “pemahaman budaya” sebagai senjata untuk menikam dari belakang tapi tidak sampai se “legend” seperti snouck.
Secara formal di mata hukum Islam dan budaya lokal (Sunda), Snouck memang “menikah”. Namun, di mata hukum kolonial Belanda dan dalam rencana jangka panjang hidupnya, status Sangkana dan Siti Sadijah tak ubahnya seperti Gundik (Njai). Mereka tidak pernah didaftarkan dalam Catatan Sipil Eropa (Burgerlijke Stand).
Ini menegaskan bahwa pernikahan tersebut murni “Pernikahan Operasional”. Ijab kabul dilakukan hanya untuk mendapatkan legitimasi masuk ke lingkaran ulama, bukan untuk membangun rumah tangga yang permanen.
Dalam buku De Njai: Het concubinaat in Nederlands-Indië, peneliti Reggie Baay membongkar fakta bahwa pergundikan di Hindia Belanda bukan sekadar urusan biologis. Di tangsi-tangsi militer KNIL (tentara kolonial) dan rumah-rumah pejabat perkebunan, para Njai memainkan peran ganda yang krusial.
Para pejabat Belanda, terutama yang baru datang, adalah orang-orang yang “buta dan tuli” terhadap realitas sosial di sekitarnya. Mereka tidak mengerti bahasa lokal, tidak paham kode budaya, dan tidak bisa mendeteksi bahaya. Di sinilah Njai masuk.
Setiap pagi, para Njai pergi ke pasar tradisional untuk berbelanja. Pasar adalah pusat informasi tak bersensor. Di sana, penduduk lokal berbicara jujur tentang kebencian mereka terhadap Belanda, rencana kerusuhan, atau pergerakan tokoh pemberontak. Para Njai merekam semua desas-desus ini.
Saat malam tiba, di balik kelambu kamar tidur, informasi ini berpindah ke telinga Tuan Belanda. Laporan tak tertulis inilah yang sering menyelamatkan tangsi-tangsi Belanda dari serangan mendadak. Reggie Baay mencatat bahwa banyak “gerundelan” rakyat yang terdeteksi dini berkat telinga para Njai.
Jadi di balik cerita cuma menikah itu yang kita tidak tahu, berapa banyak snouck mengumpulkan berita dari istrinya dan kemudian diteruskan kepada pemerintah hindia belanda dan Belanda.
Wim van Den Doel, dalam bukunya menjelaskan dengan menikahi gadis lokal, maka snouck memperoleh informasi apa saja yang dilakukan oleh gadis lokal dalam melakukan kegiatan sehari hari.
Snouck tidak berdiri sendiri, ia diberi tugas tersulit yaitu menembus dinding dinding orang Islam yang menolak tunduk kepada pemerintahan hindia Belanda. Tidak ada satupun jenderal ataupun pasukan hindia Belanda yang bisa menembus itu, karena lingkaran terdalam masyarakat muslim tidak bisa di jangkau.
Untuk bisa masuk ke lingkaran terdalam (inner circle) masyarakat Muslim yang tertutup, ia membutuhkan akses kepercayaan yang mutlak. Di sinilah strategi “Spion Huwelijk”dimainkan.
Snouck membidik targetnya dengan presisi seorang penembak jitu. Dia tidak menikahi perempuan sembarangan. Targetnya adalah putri-putri ulama yang memegang kunci pengaruh sosial.
Pertama, ia menikahi Sangkana, putri penghulu Ciamis, Raden Haji Muhammad Yusuf. Kedua, setelah Sangkana wafat, ia menikahi Siti Sadijah, putri Raden Haji Muhammad Sueb (Kalipah Apo), seorang Wakil Penghulu Bandung yang sangat disegani.
Pernikahan ini bukanlah romansa. Ini adalah akses VIP. Dengan menjadi “menantu” kiai, Snouck mendapatkan legitimasi yang tak mungkin diraih orang asing manapun. Ia bebas keluar masuk pesantren, duduk dalam majelis-majelis rahasia tarekat, dan mendengarkan keluh kesah para santri.
Dari meja makan mertuanya, Snouck memetakan jaringan ulama di Priangan. Ia mengidentifikasi mana ulama yang “keras” dan mana yang bisa “dijinakkan”. Informasi inilah yang ia olah menjadi laporan-laporan rahasia ke Batavia.
Sampai saat ini, masyarakat tidak mengetahui bawah operasi Snouck sudah berhasil dan hasil kerjanya tetap dipakai dan diyakini sebagai sebuah kebenaran.
Pernikahan Snouck bukanlah kecelakaan sejarah atau romansa yang kebetulan. Itu adalah Operasi Deep Cover. Ketika seorang agen menikahi targetnya dan memiliki anak, itu berarti negara menganggap target tersebut sebagai ancaman eksistensial yang harus dihancurkan dengan cara menyusup ke dalam DNA keluarga mereka. Anak dan istri, dalam skenario mengerikan ini, adalah ‘biaya operasional’ yang dikeluarkan demi kemenangan kolonial.(*)
*Penulis adalah Dosen, peneliti sejarah Islam, tinggal di Jakarta.
