Oleh: H. Sariat Arifia

Perbedaan besar antara peneliti ilmiah dan agen intelejen adalah: seorang peneliti dibatasi oleh etik dan kaidah dalam mendapatkan data sementara, sedangkan bagi seorang agen intelejen justru dia tidak dibatasi oleh apapun. Tidak perlu etika, juga kejujuran, yang penting hanya satu, misi harus terselesaikan dan penyamaran tidak boleh terbongkar.
Sebelum melakukan operasi deep cover di Indonesia, Snouck sudah terlebih dahulu melakukan hal serupa di Mekkah. Faktanya, operasi Snouck di Mekkah selama 5 tahun (1884) merupakan dasar baginya dalam membangun identitas dan jaringan penting, baik dalam skala lokal maupun internasional.
Operasi di Mekkah, bukanlah operasi kecil melainkan mega operasi intelejen karena melibatkan pembiayaan yang begitu besar yang apabila dikonversikan pada uang saat ini, maka akan bernilai milyaran rupiah sehingga pendanaannya melibatkan banyak institusi.
Dari dana besar tersebut, kurang lebih 127 juta rupiah ( konversi di masa sekarang) dialokasikan untuk membeli budak dari Etiopia yang akan dijadikan pasangan hidup Snouck di Mekkah.
Pilihan Snouck Hurgronje untuk membeli seorang budak perempuan asal Etiopia (Abyssinia) bukanlah keputusan acak, melainkan didasarkan pada observasi mendalamnya terhadap selera seksual laki-laki Mekkah pada masa itu.
Sebagaimana dicatat oleh Snouck sendiri, menurut pandangan laki-laki Mekkah, dalam bidang seksual, masyarakat Mekkah saat itu sangat memuji-muji “anak cucu perempuan Ham” (ras kulit hitam/Afrika). Lelaki Mekkah jatuh cinta terutama pada perempuan Etiopia, atau lebih tepatnya budak perempuan Etiopia. Hal inilah yang menjelaskan secara logis mengapa Snouck dalam upayanya menyatu sempurna dengan budaya setempat memilih membeli seorang budak dengan latar belakang etnis ini dan bukan dengan harga yang murah!
Meskipun Snouck juga mencatat bahwa kasih sayang para lelaki tersebut mungkin akan berkurang seiring waktu karena faktor perbedaan tingkat pendidikan, namun dalam konteks hasrat biologis, daya tariknya tak terbantahkan. Dengan demikian, langkah Snouck ini adalah bentuk adaptasi total terhadap norma sosial dan biologis laki-laki Mekkah demi kesempurnaan penyamarannya. Profiling perempuan yang dinikahinya jelas, yaitu tingkat pendidikan rendah tapi bernilai tinggi di hadapan masyarakat pada saat itu.
Hal ini juga yang diterapkan ketika dia melakukan operasi deep cover di Indonesia, menikahi wanita-wanita Pribumi di Hindia Belanda yang sesuai target operasinya yaitu anak kiai.
Operasi di Mekkah Ini adalah hasil desain operasi yang melibatkan tiga aktor utama dalam sel intelijen. Yang pertama, K.F. Holle sebagai konseptor di Hindia Belanda melihat perlunya infiltrasi total atau pengiriman mata- mata ke Mekkah. Kedua, J.A. Kruyt di Jeddah selain merekrut Snouck juga menyediakan logistik dan dana tunai agar transaksi pembelian budak tidak terlacak ke kas negara secara langsung. Ketiga, orang- orang seperti, Raden Aboe Bakar Djajadiningrat bertindak sebagai Access Agent yang memuluskan jalan Snouck menembus pasar sosial Mekkah, orang- orang penting, ulama- ulama penting termasuk yang berasal dari Banten yang tertutup.
Dalam kacamata intelijen, perempuan yang dipilih bukanlah istri yang dicintai, melainkan “aset operasional” untuk melengkapi cover storynya sebagai lelaki Mekkah yang saleh dan mapan.
Bagi seorang mata-mata yang beroperasi di wilayah terlarang seperti Mekkah, apalagi bergaul dengan para ulama, menjadi “Muslim” secara ritual saja tidak cukup.
Tantangan terbesar Snouck bukanlah bahasa Arab atau hafalan Quran karena dia sudah menguasainya di Leiden. Tantangan terbesarnya adalah sosiologis, yaitu bagaimana dia harus menunjukkan bahwa dirinya seorang ahli agama dan kompatibel dengan lingkungabn sekitarnya. Alangkah anehnya seorang pria dewasa, muslim yang intelek, punya status mapan, tapi hidup membujang di Mekkah abad ke-19. Ini akan menjadi suatu anomali yang mencurigakan.
Dalam surat-surat pribadinya, Snouck mengakui secara terbuka, bahwa pernikahan di Mekkah baginya mirip “perseliran” dan hatinya tidak pernah terikat secara emosional. Hubungan ini murni transaksional demi membangun citra “rumah tangga bahagia” di mata para ulama dan pejabat Utsmaniyah.
Dengan memiliki istri dan rumah tangga, status sosial “Abd al-Ghaffar” naik drastis. Dia bukan lagi orang asing yang numpang lewat. Dia adalah tuan rumah. Rumah tangganya menjadi “Safe House” di mana dia bisa saja mengundang tokoh-tokoh kunci yang informasinya dibutuhkannya, seperti Syekh Nawawi al-Bantani untuk makan malam, berdiskusi santai, dan tanpa sadar menyedot informasi mengenai peta kekuatan politik.
Darah Daging Sendiri sebagai “Liabilitas Operasi”
Ketika penyamaran Snouck hampir terbongkar dan dia harus dievakuasi mendadak pada Agustus 1885. Nasib gadis Abyssinia itu berakhir tragis sebagai residu operasi intelijen. Gadis itu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan hamil.
Sebagaimana adagium di awal, apapun boleh dilakukan namun penyamaran tidak boleh terbongkar. Snouck segera meninggalkan Mekkah dengan kondisi istrinya yang sedang hamil.
Reaksi Snouck terhadap kehamilan ini sendiri sangat dingin dan tak berperikemanusiaan. Snouck kemudian mengatur dari jauh, agar istrinya bisa diperjualbelikan kembali atau diatur agar tidak jatuh ke tangan pihak -pihak kontra intelejen lawannya. Paling penting, bayi yang ada di dalam kandungan harus di musnahkan karena apabila sampai diketahui oleh kalangan di Belanda, bisa menjadi amunisi bagi lawan lawan politiknya.
Catatan sejarah Wim van den Doel mengungkap bahwa Snouck merasa “lega” ketika perempuan itu berhasil diatur mengakhiri kehamilannya.
Alangkah lucunya, kalau masih saja ada yang menulis seolah -olah mempertanyakan Snouck ini islam atau tidak. Jangankan agama, Snouck sendiri melihat anak tidak sebagai anak tapi sebagai property asset yang kapan saja bisa dilepas.
Apabila di Indonesia, Snouck meninggalkan begitu saja, maka di Mekkah anak dia sendiri dimusnahkan.Dan dalam menjalankan misinya, selalu ada kaki tangan yang setia untuk melakukannya karena mereka mendapatkan imbalan berupa kedudukan, seperti Hasan Moestafa ataupun Aboe Bakar Jayadiningrat.
Operasi di Mekkah dan di Indonesia memiliki pola yang sama, deep cover yang menggunakan ranjang sebagai kedok sempurnanya. Tidak ada romansa. Persahabatan. Semua hanya untuk kepentingan penjajahan.(*)
*Penulis adalah Dosen dan peneliti sejarah Islam, tinggal di Jakarta.
