Rab. Sep 9th, 2026

Oleh: Irwan Rakhday

Kalau bicara Majapahit, orang langsung ingat Gajah Mada dan Sumpah Palapa. Tapi jarang yang tahu, sebelum Gajah Mada mengucapkan sumpah legendaris itu, ia harus melewati ujian pertama di tanah kita: Geger Keta-Sadeng 1331 M.

Peristiwa ini terjadi di pesisir timur-selatan Jawa. Dan besar kemungkinan, salah satunya ada di wilayah kita sekarang: Besuki-Situbondo dan Puger-Jember Selatan.

Majapahit Lagi Goyang

Setelah Raden Wijaya wafat 1309, Majapahit dipimpin putranya Jayanegara. Pemerintahan belum stabil. 1316, Patih Nambi dieksekusi karena dituduh makar.

Nambi ini punya banyak pengikut di wilayah timur. Dendam itu dipendam. 15 tahun kemudian, saat Ratu Tribhuwana Tunggadewi naik tahta, dendam itu meledak.

Dua wilayah taklukan di ujung timur memutuskan berontak: Keta dan Sadeng. Mereka menolak bayar upeti dan menyatakan lepas dari Majapahit.

Di Mana Keta dan Sadeng?

Sampai sekarang lokasinya masih diperdebatkan sejarawan. Tapi berdasarkan toponimi, babad, dan cerita rakyat:

-Keta;diperkirakan wilayah Besuki, Situbondo sekarang. Dulu pelabuhan penting penghasil besi untuk ke Bali dan Madura. Ada sebuah Desa bernama Keta di Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo.

– Sadeng ;diperkirakan pesisir Gumukmas-Puger, Jember Selatan. Masih ada Desa Sadeng di sana. Orang tua di Puger sampai sekarang masih cerita tentang “Perang Sadeng”.

Dua tempat ini strategis. Kalau lepas, jalur dagang Majapahit ke Bali dan Nusa Tenggara putus. Wajar kalau istana panik.

Dua Jenderal, Dua Gaya

Ratu Tribhuwana lalu mengirim dua panglima: Ra Kembar dan Gajah Mada.

Ra Kembar pakai cara konvensional: serbu frontal. Hasilnya? Gagal di Keta. Pasukannya terjebak medan dan logistik.

Gajah Mada beda. Ia pakai siasat. Ke Sadeng, ia pura-pura berunding. Di tengah pertemuan, pimpinan Sadeng, Ra Sadeng, dipenggal. Tanpa kepala, pasukan Sadeng bubar. Keta menyusul menyerah.

Dari sinilah nama Gajah Mada mulai diperhitungkan. Cerdas, berani, dan tidak ragu.

Dari Pemberontakan ke Sumpah Palapa

5 tahun setelah Keta-Sadeng, 1336, Gajah Mada diangkat jadi Mahapatih Amangkubhumi. Di depan para menteri ia bersumpah:

“Aku tidak akan menikmati palapa, sebelum seluruh Nusantara bersatu di bawah Majapahit.”

Kenapa sumpah itu muncul? Karena Majapahit baru sadar: kalau satu daerah pinggiran lepas, yang lain bisa ikut. Keta-Sadeng adalah pelajaran mahal.

Jadi Sumpah Palapa bukan muncul tiba-tiba. Ia lahir dari pengalaman pahit menumpas pemberontakan di tanah Jawa Timur.

Setelah ini karir Gajah Mada melesat: menaklukkan Bali 1343, Palembang 1377, dan lain-lain.

Jejaknya Masih Ada di Tapal Kuda

Sampai hari ini jejak Keta-Sadeng belum hilang:

1. Nama tempat: Desa Keta di Situbondo, Tanjung Sadeng di Puger.
2. Tradisi lisan: Cerita “Jaran Sadeng” di Gumukmas tentang kuda perang Majapahit.
3. Situs: Di muara Sungai Bedadung Jember ditemukan pecahan keramik Cina dan umpak batu diduga abad 14. Demikian pula di sekitar Desa Keta dan desa sekitarnya terdapat sejumlah temuan lumpang, batu dakon dan fragmen bata kuno yang identik era Majapahitan. Selain itu juga terdapat struktur sumur kuno.

Bagi warga pesisir selatan Jawa, Sadeng bukan sekadar yang kalah. Ia simbol perlawanan daerah kecil terhadap pusat yang besar. Sikap kritis dan mandiri orang Tapal Kuda mungkin ada akarnya di sini.

Ujian Pertama Sang Mahapatih

Geger Keta-Sadeng sering dilompati di buku sejarah. Padahal ini titik balik.

Tanpa kemenangan di Besuki dan Puger ini, mungkin tidak ada Gajah Mada seperti yang kita kenal. Tidak ada Sumpah Palapa. Dan mungkin peta Nusantara hari ini beda.

Jadi kalau ke Puger atau Besuki, ingat: 700 tahun lalu, di tanah inilah seorang pemuda bernama Gajah Mada pertama kali membuktikan dirinya. Dan dari sanalah jalan menuju Nusantara dimulai.(ikr)

 

Penulis adalah peminat sejarah lokal.

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *