Kolom
Prayudho BJ
Semalam, tiba-tiba saya teringat Kang Irwan Rakhday, kawan lama dari kampung halaman yang tekun merawat sejarah dan cagar budaya Situbondo. Ingatan itu muncul bertepatan dengan Harjakasi, hari jadi Kabupaten Situbondo. Tulisan ini bukan hendak masuk ke perdebatan hari jadi, melainkan mengajak membaca satu hal yang lebih penting: bagaimana ekonomi Situbondo, dari masa ke masa, menyimpan cerita tentang daerah yang terus berusaha naik kelas.
Situbondo memiliki sejarah ekonomi yang kuat sebagai wilayah pesisir utara Jawa Timur. Letaknya di jalur perdagangan, dekat dengan Selat Madura, serta memiliki kawasan pelabuhan bersejarah seperti Besuki/Ketah, Balumbungan atau Asembagus, dan Panarukan. Sejak lama, wilayah ini menjadi ruang arus barang, hasil bumi, pelayaran, dan mobilitas masyarakat.
Jejak ekonomi tertua wilayah ini dapat ditarik jauh ke belakang. Catatan bangsa Tiongkok sekitar abad ke-10 menyebut gunung berpuncak lima sebagai penanda masuk ke wilayah Jawa. Dari sini dapat dibaca bahwa bentang alam Situbondo bukan sekadar pemandangan, tetapi juga penanda geografis dalam jalur pelayaran dan perdagangan. Posisi itu menempatkan Situbondo dalam jejaring ekonomi pesisir utara Jawa Timur.
Panarukan kemudian tampil sebagai kawasan pantai yang strategis: titik singgah pelayaran, tempat pertukaran barang, dan penghubung antara pedalaman dengan perdagangan laut. Hasil pertanian, hasil laut, garam, kayu, ternak, dan kebutuhan pelayaran menjadi bagian dari denyut ekonominya. Catatan navigasi Portugis pada Juli 1527 juga menunjukkan pentingnya Panarukan dalam peta kepentingan maritim masa itu.
Selain Panarukan, Balumbungan—kawasan yang kini berada di sekitar Banyuputih dan Asembagus—menyimpan jejak sejarah yang menarik. Dalam catatan sejumlah pegiat sejarah Situbondo, kawasan ini kerap dikaitkan dengan sistem logistik Majapahit. Klaim seperti ini tentu masih memerlukan penelitian lebih lanjut, tetapi sebagai ingatan lokal ia memberi petunjuk bahwa Situbondo tidak hanya hidup dari perdagangan pesisir. Wilayah ini juga pernah dibayangkan sebagai bagian dari kekuatan agraris-maritim yang menopang arus barang, manusia, dan pengaruh politik di pesisir timur Jawa.
Pada masa Majapahit, ekonomi Situbondo dapat dipahami sebagai ekonomi agraris-maritim yang strategis. Hasil bumi dari pedalaman mengalir menuju pesisir untuk diperdagangkan, sementara jalur laut membuka hubungan dengan Madura, Bali, Kangean, Laut Jawa, dan kawasan timur Nusantara. Panarukan menjadi ruang pertemuan pedagang, nelayan, dan masyarakat pesisir, sekaligus bagian dari jaringan logistik di pesisir timur Jawa.
Pada masa kolonial, Panarukan dan Besuki berkembang sebagai pelabuhan penting. Keduanya menjadi tempat pengumpulan dan pengiriman hasil bumi seperti tembakau, kopi, tebu, gula, dan komoditas perkebunan dari wilayah sekitar, termasuk Jember dan Bondowoso. Pembangunan Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan pada masa Daendels semakin memperkuat peran Situbondo sebagai penghubung antara pedalaman dan laut.
Setelah kemerdekaan, ekonomi Situbondo tetap bertumpu pada pertanian, perkebunan, perikanan, dan perdagangan rakyat. Pasar, distribusi hasil tani, pelabuhan, dan jalur darat menjadi bagian penting ekonomi masyarakat. Jika sebelumnya Situbondo menjadi simpul arus barang dalam jaringan kerajaan dan kolonial, maka pada masa pascakemerdekaan daerah ini mulai membangun fondasi ekonomi lokalnya sendiri.
Hari ini, karakter agraris-maritim itu masih tampak, tetapi mulai bergerak naik kelas. Data BPS Kabupaten Situbondo mencatat PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2025 sekitar Rp28.974,88 miliar dan PDRB atas dasar harga konstan sekitar Rp16.572,29 miliar. Ekonomi Situbondo tumbuh 5,28 persen pada 2025, lebih cepat dibandingkan 4,81 persen pada 2024. Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi daerah bukan sekadar bertahan, melainkan sedang bergerak lebih kuat.
Strukturnya juga menegaskan basis lama yang masih kuat. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai sekitar Rp8.565,53 miliar, disusul industri pengolahan sekitar Rp6.332,97 miliar dan perdagangan besar dan eceran sekitar Rp4.555,19 miliar. Artinya, naik kelas bagi Situbondo bukan berarti meninggalkan basis agraris-maritim, melainkan memperkuatnya melalui hilirisasi, pengolahan hasil bumi, perluasan pasar, dan rantai nilai lokal.
Tanda transformasi terlihat dari sektor yang tumbuh cepat pada 2025: jasa perusahaan 10,66 persen, industri pengolahan 9,05 persen, serta informasi dan komunikasi 8,96 persen. Pesannya jelas: masa depan Situbondo tidak cukup bertumpu pada bahan mentah. Daerah ini perlu memperbesar peran jasa, industri, teknologi informasi, dan kewirausahaan agar nilai tambah lebih banyak tinggal di masyarakat lokal.
Potensi ekonomi Situbondo berada pada pertanian produktif, perikanan berkelanjutan, pengolahan hasil bumi, pariwisata pesisir, dan infrastruktur pelabuhan. Tantangannya ialah meningkatkan nilai tambah produk lokal, memperkuat akses pasar, memodernisasi produksi, melindungi lingkungan pesisir, dan memastikan pemerataan kesejahteraan. Masa depan ekonomi daerah tidak hanya ditentukan oleh hasil alam, tetapi oleh kemampuan mengolah, memasarkan, dan menjaga keberlanjutannya.
Di titik ini, sumber daya manusia menjadi kunci. Sejak masa Majapahit, masyarakat pesisir Situbondo terbiasa dengan perdagangan, pelayaran, pertanian, dan perikanan. Tradisi itu membentuk karakter kerja produktif, mobilitas barang, jejaring sosial, serta keterampilan mengelola potensi darat dan laut.
Arah itu relevan dengan data ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran terbuka turun dari sekitar 3,15 persen pada 2024 menjadi 3,02 persen pada 2025, sementara tingkat partisipasi angkatan kerja naik dari 76,66 persen menjadi 78,51 persen. Semakin banyak penduduk usia kerja terlibat dalam ekonomi. Namun, agar keterlibatan itu menghasilkan kesejahteraan, masyarakat perlu didukung pendidikan vokasi, kewirausahaan, literasi digital, manajemen usaha, dan kemampuan mengolah produk lokal.
Di sinilah peran pemimpin daerah menjadi penting. Potensi sejarah, geografis, dan SDM tidak otomatis berubah menjadi kemajuan tanpa arah kebijakan yang jelas. Pemimpin daerah perlu membaca kekuatan Situbondo sebagai wilayah agraris-maritim, lalu menerjemahkannya ke dalam program yang berpihak kepada petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja industri, dan masyarakat pesisir.
Kebijakan yang tepat dapat mendorong hilirisasi pertanian dan perikanan, pariwisata berbasis budaya dan alam, penguatan koperasi serta UMKM, infrastruktur pelabuhan dan jalan, serta kerja sama dengan dunia pendidikan dan usaha. Dengan cara itu, potensi daerah tidak berhenti sebagai kekayaan alam, tetapi tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang digerakkan masyarakat terampil, kreatif, dan berdaya saing.
Dari masa ke masa, ekonomi Situbondo bergerak dari ekonomi pesisir dan pelabuhan, berkembang melalui Panarukan sebagai simpul perdagangan dan ekspor hasil bumi, lalu bertransformasi menjadi ekonomi daerah yang ditopang pertanian, perikanan, industri pengolahan, perdagangan, jasa, dan pariwisata. Data terbaru menunjukkan dasar itu cukup kuat: PDRB 2025 sekitar Rp28.974,88 miliar dengan pertumbuhan 5,28 persen. Karena itu, “naik kelas” bukan sekadar slogan, melainkan agenda pembangunan: memperkuat basis agraris-maritim, memperbesar nilai tambah, meningkatkan kualitas SDM, dan menghadirkan kepemimpinan daerah yang visioner.
Memperingati Situbondo hari ini seharusnya bukan sekadar menengok masa lalu, melainkan membaca arah masa depan. Warisan maritim, kekuatan agraris, dan jejak sejarah panjang tidak boleh berhenti sebagai romantisme daerah. Semua itu harus menjadi energi untuk membangun manusia Situbondo yang lebih percaya diri, terampil, dan berani mengambil peran dalam perubahan. Jika sejarah telah memberi Situbondo posisi strategis, tugas generasi hari ini adalah menghidupkannya kembali sebagai kekuatan ekonomi yang adil, produktif, dan berkelanjutan.
*Penulis adalah pegiat sejarah Situbondo yang bergiat di Patukangan Reborn Society, tinggal di Pekan Baru.


