Sab. Mei 30th, 2026

Oleh: Irwan Kurniadi

Akhir-akhir ini, kita telah menyaksikan serangkaian peristiwa yang sangat memprihatinkan dan berpotensi memperburuk citra masyarakat Madura di mata publik. Salah satu contoh yang sangat mencolok adalah kasus perselisihan antara oknum-oknum yang mengatasnamakan dirinya sebagai bagian dari ormas MADAS (Madura Asli) dengan pihak Mie Gacoan di Surabaya terkait dengan penerapan parkir digital. Kasus ini menjadi sorotan karena menunjukkan bagaimana tindakan sekelompok orang dapat memengaruhi persepsi masyarakat luas terhadap sebuah komunitas besar.

Perlu ditegaskan bahwa tindakan semena-mena dan kekerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu tidak dapat mewakili seluruh masyarakat Madura. Madura bukanlah milik satu golongan, satu ormas, atau satu kepentingan tertentu. Bahkan itu tidak menjaga marwah. Madura adalah rumah bagi banyak nilai luhur seperti adab, hormat, dan kemanusiaan. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi pedoman bagi setiap individu yang mengaku sebagai bagian dari masyarakat Madura.

Kekerasan dan intimidasi bukanlah cara yang dapat dibenarkan dalam menyelesaikan masalah. Tindakan-tindakan tersebut hanya mencerminkan pribadi-pribadi yang terlibat dan tidak mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Madura. Oleh karena itu, penting untuk menindaklanjuti kasus-kasus seperti ini dengan serius dan memastikan bahwa pelaku diberikan sanksi yang sesuai berdasarkan hukum yang berlaku.

Sayangnya, dalam beberapa kasus, publik sering kali terjebak dalam generalisasi yang berlebihan. Alih-alih melihat persoalan sebagai tindakan individu atau kelompok tertentu, seringkali masyarakat langsung mengaitkan masalah tersebut dengan kesukuan atau identitas tertentu. Ini sangat berbahaya karena dapat memicu sentimen negatif yang tidak perlu dan berpotensi memperburuk situasi.

Generalisasi semacam ini tidak hanya tidak adil tetapi juga berpotensi menghukum orang-orang yang tidak bersalah. Banyak warga Madura yang hidup damai dan berkontribusi positif dalam masyarakat, namun citra mereka bisa ternoda hanya karena tindakan beberapa oknum. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk selalu berusaha melihat persoalan dengan objektif dan tidak terburu-buru dalam memberikan penilaian.

Dalam konteks ini, penegakan hukum harus menjadi prioritas utama. Pelaku tindakan kekerasan dan intimidasi harus diberikan sanksi yang sesuai tanpa memandang latar belakang atau afiliasi mereka. Dengan demikian, kita dapat menunjukkan bahwa tindakan semena-mena tidak dapat ditolerir dan bahwa keadilan harus ditegakkan secara konsisten. Kepada siapa pun itu tanpa memandang SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan).

Akhirnya, kita harus berusaha untuk mempromosikan pemahaman dan toleransi di antara berbagai kelompok masyarakat. Dengan membangun dialog yang konstruktif dan memupuk rasa saling menghormati, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan damai. Madura, dengan nilai-nilai luhurnya, dapat menjadi contoh bagi kita semua dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.

Menjaga adab (Madura) bukan tanggung jawab kita sesama darah Madura saja, bahkan tanggung jawab kita sebangsa jika kita paham bagaimana Madura yang luhur.

Sehingga kita semua memahami bahwa bukan hanya Suku Madura, bahkan semua suku memiliki marwahnya masing-masing untuk dijaga secara bersama-sama. Tentu demi kerukunan serta persatuan sebagai masyarakat sebangsa Indonesia.*(ik)

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *