Oleh: Sutrisno Bachtiar Yusuf

Belakangan ini, istilah Salafi sering kali disalahpahami. Tidak jarang ia dipersempit maknanya, bahkan dianggap sebagai sebuah organisasi masyarakat (ormas) tertentu yang eksklusif, tertutup, dan berbeda dari umat Islam pada umumnya.
Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Pernyataan “Salafi itu bukan ORMAS, namun di setiap ORMAS selalu ada orang Salafi” justru membuka pintu pemahaman yang lebih jernih tentang apa sebenarnya makna Salafi.
Salafi: Manhaj, Bukan Organisasi
Secara bahasa, Salafi merujuk kepada salafus shalih, yaitu tiga generasi terbaik umat Islam: para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.
Dalam konteks ini, Salafi bukanlah nama kelompok, apalagi organisasi formal dengan struktur kepengurusan, kartu anggota, atau bendera tertentu. Salafi adalah manhaj—sebuah metode beragama—yang berupaya memahami dan mengamalkan Islam sebagaimana dipraktikkan oleh generasi awal tersebut.
Karena ia adalah manhaj, maka seseorang bisa berafiliasi pada ormas apa pun, aktif di lembaga apa pun, bahkan hidup di lingkungan apa pun, namun tetap berusaha mengamalkan nilai-nilai Salafi. Inilah mengapa dikatakan bahwa Salafi tidak berdiri sebagai ormas, tetapi di setiap ormas bisa saja terdapat orang-orang yang bermanhaj Salafi.
Salafi Ada di Mana-Mana
Di ormas besar, di masjid kampung, di kampus, di pesantren, hingga di lembaga sosial—semuanya bisa ditemukan individu yang berusaha berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman generasi salaf. Mereka tidak selalu menampilkan identitas “Salafi” secara formal, karena memang Salafi bukan label keanggotaan, melainkan orientasi beragama.
Hal ini menunjukkan bahwa Salafi tidak identik dengan satu wadah tertentu. Ia bersifat lintas ormas, lintas profesi, dan lintas latar belakang sosial.
Kesalahan Umum: Salafi Dipersempit Menjadi Kelompok Eksklusif
Salah satu masalah utama dalam diskursus ini adalah kecenderungan memersempit Salafi menjadi seolah-olah kelompok eksklusif yang merasa paling benar dan menutup diri dari umat Islam lainnya. Padahal, jika dipahami secara benar, Salafi justru mengajarkan prinsip keilmuan, adab dalam berbeda pendapat, serta dakwah dengan hikmah.
Menyempitkan makna Salafi hanya pada tampilan luar, gaya ceramah, atau lingkaran tertentu bukan hanya tidak adil, tetapi juga mengaburkan esensi ajaran Islam itu sendiri. Salafi bukan tentang “siapa kelompokmu”, melainkan “bagaimana cara kamu memahami dan mengamalkan agama”.
Menuju Pemahaman yang Lebih Dewasa
Sudah saatnya umat Islam bersikap lebih dewasa dalam menyikapi istilah Salafi. Alih-alih menjadikannya stigma atau label pemisah, Salafi seharusnya dipahami sebagai ajakan untuk kembali kepada sumber ajaran Islam yang murni, dengan ilmu, adab, dan kebijaksanaan.
Perbedaan ormas adalah realitas sosial, tetapi persatuan akidah dan ukhuwah adalah tujuan bersama. Selama semangat Salafi dimaknai sebagai upaya mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang lurus, maka ia tidak layak dipersempit menjadi identitas kelompok yang eksklusif.
Salafi bukan ormas, bukan pula bendera kelompok tertentu. Ia adalah jalan berpikir dan beragama yang terbuka bagi siapa saja. Memahami hal ini akan membantu kita keluar dari prasangka, memperkuat persatuan, dan menempatkan perbedaan pada proporsinya. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukanlah label, melainkan keikhlasan dalam mengikuti kebenaran.
Tulisan ini hanya sekedar pandangan pribadi saya merangkum dari sumber kredibel tapi bisa saya pertanggung jawabkan.*(sby)
