Sab. Apr 4th, 2026
Suasana sarasehan Ahad (25/1/2026).

suarabalumbung.com, Situbondo – Peresmian Pendopo Pate Alos Besuki dirangkaikan dengan kegiatan Sarasehan Kebudayaan yang digelar pada Ahad (25/1/2026), pukul 13.00 hingga 16.00 WIB, bertempat di Pendopo Pate Alos Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam pelestarian sejarah dan cagar budaya di wilayah Besuki.

 

Sarasehan tersebut diikuti oleh berbagai komunitas kebudayaan dan kreatif di Besuki, seperti LSPB, Mabes Kreatif, dan komunitas lainnya serta perwakilan pelajar dari jenjang SMA, SMK, dan SMP se-Wilayah Barat Kabupaten Situbondo. Hadir sebagai narasumber Nor Fadilahtus Sofiah dari BPKW XI, A. Zulkifli dari Dinas DPUPP, Halil Budiarto dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), serta Marlutfi Yoandinas selaku pegiat budaya. Diskusi berlangsung interaktif dengan dipandu oleh moderator Naufal Marvel A.

 

Dalam sambutannya, Bupati Situbondo Mas Rio menyampaikan bahwa sejarah akan terus berulang dan mengalami perubahan, tetapi yang membedakan adalah dimensi waktu. Dia menegaskan bahwa pelestarian sejarah bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan merupakan panggilan moral untuk menjaga identitas dan jati diri daerah.

 

Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam diskusi. Salah satu peserta menegaskan pentingnya peran generasi muda untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian cagar budaya serta menjaga nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Melalui sarasehan ini, diharapkan masyarakat dan generasi muda semakin teredukasi untuk menjaga, merawat objek-objek cagar budaya, serta memelihara kebersihan dan fasilitas Pendopo Pate Alos Besuki secara berkelanjutan.

 

Salah satu narasumber, Halil Budiarto menegaskan bahwa edukasi pelestarian cagar budaya sangat penting.

 

“Sangat penting, tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi seluruh jajaran pemerintahan sebagaimana amanat UU Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010. Jangan sampai terjadi lagi kerusakan, apalagi hilangnya objek-objek cagar budaya,”ucapnya.

Menurut dia, warisan kebudayaan peninggalan leluhur tersebut harus dijaga dan dilestarikan bersama sebagai bagian dari identitas daerah.(ik)

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *