Sab. Apr 4th, 2026

Oleh M. Basyir Zubair

Snouck Hurgronje

Seri 1 dari 4

Prolog: Anak Mimbar yang Menemukan Mihrab

Pada 8 Februari 1857, di kota kecil Oosterhout, Brabant Utara, Belanda, lahir seorang anak laki-laki yang kelak akan mengubah wajah politik Islam di Hindia Belanda. Namanya Christiaan Snouck Hurgronje. Ia lahir dari rahim keluarga pendeta Protestan yang taat, di mana ayahnya, Jacob Julianus Snouck Hurgronje, adalah seorang pendeta Calvinis yang keras dan ortodoks. Ibunya, Anna Maria de Visser, berasal dari keluarga yang sama kuatnya dalam tradisi Kristen Reformed.

Rumah keluarga Snouck adalah rumah mimbar. Di sana Alkitab dibaca setiap pagi, doa-doa panjang mengiringi makan malam, dan perdebatan teologis menjadi santapan intelektual sehari-hari. Namun ada yang menarik: kakek Christiaan dari pihak ibu, Dominee J. Scharp, adalah seorang penginjil yang pada tahun 1824 telah menulis buku tentang Nabi Muhammad sebagai panduan bagi para misionaris yang hendak bertugas di Hindia Belanda. Buku itu bukan sekadar kritik—ia adalah peta jalan untuk menghadapi Islam, musuh teologis yang harus dipahami agar bisa ditaklukkan.

Maka sejak kecil, Christiaan Snouck Hurgronje dibesarkan dalam bayang-bayang dua obsesi: kekristenan yang militan, dan Islam sebagai misteri yang menantang. Ia tidak tahu saat itu bahwa kedua obsesi ini akan membentuk nasibnya, dan nasib jutaan Muslim di tanah jajahan.

Bagian I: Di Ruang Kelas Leiden—Dari Teologi Menuju Orientalisme (1874-1884)

Pada musim gugur 1874, Christiaan yang berusia tujuh belas tahun memasuki gerbang Universitas Leiden, salah satu universitas tertua dan paling bergengsi di Eropa. Seperti lazimnya anak pendeta, ia mendaftar di Fakultas Teologi. Namun ada sesuatu yang mulai bergeser dalam dirinya. Dalam kuliah-kuliah teologi, ia merasa sesak. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terasa kaku, jawabannya sudah ditentukan sejak awal. Tidak ada ruang untuk keraguan, tidak ada celah untuk eksplorasi intelektual yang sejati.

Lalu ia bertemu dengan seseorang yang mengubah hidupnya: Professor Michael Jan de Goeje, seorang ahli bahasa Semit dan manuskrip Arab terkemuka di Eropa. De Goeje adalah orientalis brilian yang menguasai bahasa Arab, Persia, Turki, dan Ibrani dengan sempurna. Di bawah bimbingannya, Christiaan mulai belajar bahasa Arab dan mempelajari sejarah Islam bukan sebagai musuh teologis, tetapi sebagai peradaban yang kompleks dan menarik.

Keputusan itu tidak populer di keluarganya. Ayahnya khawatir. Ibunya berdoa agar anaknya tidak tersesat. Tetapi Christiaan sudah terlanjur jatuh cinta pada dunia yang asing itu, dunia di mana Tuhan disebut dengan nama Allah, di mana kitab suci ditulis dalam bahasa yang melengkung indah seperti pedang Damaskus, di mana para nabi adalah tokoh yang sama namun berbeda cara memandangnya.

Pada tahun 1880, di usia dua puluh tiga tahun, Christiaan Snouck Hurgronje berhasil meraih gelar doktor cum laude dengan disertasi yang brilian: Het Mekkaansche Feest (“Perayaan di Mekkah”). Disertasi ini membahas ritual haji dengan pendekatan antropologis dan filologis yang belum pernah ada sebelumnya. Ia tidak hanya membaca teks-teks Arab klasik, tetapi juga mewawancarai para peziarah yang pulang dari Mekkah, termasuk peziarah dari Hindia Belanda yang singgah di pelabuhan-pelabuhan Eropa.

Setelah lulus, Snouck tidak langsung menjadi akademisi murni. Pada tahun 1881, ia diangkat sebagai dosen di Indische Instelling (College for East Indian Officials) dan di Koninklijke Militaire Academie (Royal Military Academy) untuk melatih para pegawai kolonial dan perwira militer Belanda yang akan bertugas di Hindia Belanda. Inilah titik persinggungan pertama antara ilmu dan kekuasaan dalam hidupnya. Ia mengajarkan bahasa Melayu, adat istiadat Islam, dan bagaimana “mengelola” umat Islam di wilayah jajahan.

Namun hatinya belum puas. Ia ingin lebih dari sekadar membaca tentang Islam,bia ingin merasakannya, menghirupnya, mendengar azan dari mimbar Masjidil Haram. Pada tahun 1881-1884, ia melanjutkan studi lanjutan di Strasbourg, Prancis, di bawah bimbingan Professor Theodor Nöldeke, salah satu ahli Alquran terbesar di dunia Barat. Di sana ia memperdalam kajian filologi Arab, sejarah Islam awal, dan metodologi penelitian lapangan.

Lalu pada tahun 1884, datanglah momen yang telah lama ia tunggu.

Bagian II: Mekkah—Penyamaran, Pengkhianatan, atau Pencarian? (1884-1885)

Pada 28 Agustus 1884, kapal uap membawa Christiaan Snouck Hurgronje melintasi Laut Tengah, melewati Terusan Suez, menuju Laut Merah. Ia berusia dua puluh tujuh tahun. Dalam tasnya tersimpan buku catatan kosong, kamera tersembunyi, dan surat rekomendasi dari pemerintah Belanda. Tujuannya: Mekkah.

Tetapi Mekkah pada masa itu bukanlah kota yang bisa dimasuki sembarang orang. Kota suci itu berada di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman), dan hanya Muslim yang diizinkan masuk. Bagi orang Kristen Eropa, Mekkah adalah kota terlarang, siapa pun yang ketahuan menyusup bisa diusir, dipenjara, bahkan dibunuh.

Maka Snouck memutuskan untuk melakukan sesuatu yang kontroversial: ia menyatakan diri masuk Islam.

Pada bulan September 1884, di kota pelabuhan Jeddah, Christiaan Snouck Hurgronje secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan seorang mufti lokal. Ia mengambil nama Muslim: Abdul Ghaffar, yang berarti “Hamba Yang Maha Pengampun”. Ia juga dikabarkan menjalani khitan (sunat) sebagai tanda kesungguhan. Apakah ia benar-benar beriman? Atau ini hanya taktik penelitian? Pertanyaan ini akan menghantui Snouck sepanjang hidupnya.

Selama lima bulan, ia menunggu di Jeddah. Ia belajar cara berpakaian seperti orang Arab, cara duduk bersila, cara makan dengan tangan kanan, cara berdoa dengan gerakan yang tepat. Ia belajar bahasa Arab dialek Hijaz, membaca Alquran setiap hari, dan bergaul dengan para pedagang, ulama, dan peziarah yang datang dari berbagai penjuru dunia Islam.

Akhirnya, pada 21 Januari 1885, izin masuk ke Mekkah diberikan oleh otoritas Ottoman setelah ia diuji oleh beberapa ulama. Mereka puas dengan pengetahuan Abdul Ghaffar tentang Islam. Pintu Ka’bah terbuka untuknya.

Bagian III: Tujuh Bulan di Jantung Islam

Dari Februari hingga Agustus 1885, Christiaan Snouck Hurgronje atau Abdul Ghaffar tinggal di Mekkah. Ia menyewa rumah kecil dekat Masjidil Haram, bangun setiap subuh untuk salat, lalu pergi ke masjid untuk mengaji bersama para ulama dan santri dari berbagai negara. Ia sangat dekat dengan para pelajar dan ulama dari Nusantara, Raden Abdurahman Saleh, Raden Muhammad Moesa, Raden Haji Hasan Mustapa (yang kelak akan menjadi mertua figuratifnya), dan Raden Muhammad Rusjdi (yang juga akan menjadi bagian penting dalam jaringan keluarganya di Hindia Belanda).

Snouck sangat pandai bergaul. Ia tidak hanya datang sebagai pelajar, tetapi sebagai teman, sebagai pendengar yang baik, dan sebagai orang yang tulus tertarik pada kehidupan spiritual mereka. Para santri Nusantara menyukainya. Mereka berbagi cerita tentang kampung halaman, tentang perjuangan melawan Belanda, tentang mimpi membangun masyarakat Islam yang merdeka.

Tetapi di balik keramahan itu, Snouck mencatat semuanya. Setiap percakapan, setiap nama, setiap pemikiran politik tentang perlawanan terhadap kolonialisme,;semua dicatat dengan rapi dalam buku hariannya. Ia juga membawa kamera, sebuah alat yang sangat langka pada masa itu, dan secara diam-diam memotret Ka’bah, Masjidil Haram, para jemaah haji, dan kehidupan sehari-hari di Mekkah. Foto-foto ini adalah foto Barat pertama yang diambil di dalam kota suci.

Yang paling mencengangkan, Snouck juga membuat rekaman suara bacaan Alquran, mungkin rekaman audio pertama yang pernah dibuat dari tanah haram. Dengan menggunakan fonograf primitif, ia merekam suara seorang qari yang membaca Surah Al-Fatihah dan beberapa ayat lainnya. Rekaman ini kelak menjadi arsip berharga di Universitas Leiden.

Tetapi seperti yang sering terjadi dalam kisah mata-mata, rahasia tidak bisa disimpan selamanya. Pada pertengahan 1885, mulai beredar kabar bahwa Abdul Ghaffar bukanlah Muslim sejati, melainkan seorang Nasrani Belanda yang menyamar. Ada tuduhan bahwa ia mencuri artefak-artefak pra-Islam, bahwa ia mata-mata pemerintah kolonial, bahwa ia datang untuk merusak kesucian Mekkah.

Situasi menjadi berbahaya. Beberapa ulama keras mulai curiga. Otoritas Ottoman juga mulai menyelidiki. Akhirnya, pada Agustus 1885, Snouck terpaksa meninggalkan Mekkah dengan tergesa-gesa. Ia kembali ke Jeddah, lalu berlayar ke Eropa dengan hati yang campur aduk, bangga dengan apa yang telah ia capai, tetapi juga sedih karena harus meninggalkan dunia yang telah ia cintai.

Bagian IV: Kembali ke Leiden Kepopuleran dan Kontroversi (1886-1889)

Ketika Snouck tiba di Leiden pada akhir tahun 1885, ia membawa harta karun: ratusan foto, catatan etnografi yang detail, rekaman suara, dan manuskrip-manuskrip langka. Ia menghabiskan tiga tahun berikutnya untuk mengolah semua bahan itu menjadi sebuah karya monumental.

Pada tahun 1888-1889, ia menerbitkan dua jilid buku berjudul Mekka dengan sebuah portofolio besar berisi puluhan foto. Buku ini mengguncang dunia akademis Eropa. Tidak pernah sebelumnya seorang Barat berhasil menulis tentang Mekkah dengan detail yang demikian intim dan akurat. Snouck tidak hanya mendeskripsikan arsitektur dan ritual, tetapi juga menggambarkan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan spiritual masyarakat Muslim di kota suci.

Buku itu mendapat pujian luar biasa dari kalangan orientalis. Ia diundang untuk memberi kuliah di berbagai universitas. Namanya menjadi terkenal di seluruh Eropa. Orang-orang mulai memanggilnya dengan julukan “Haji Belanda” atau “Mufti Abdul Ghaffar”.

Tetapi di balik kepopuleran itu, ada kritik yang tajam. Beberapa kalangan Kristen konservatif menuduhnya telah mengkhianati imannya. Ada yang mengatakan bahwa ia telah menjadi Muslim sejati dan hanya berpura-pura tetap menjadi orang Kristen. Ada pula yang menuduhnya sebagai penipu yang mengeksploitasi kepercayaan orang-orang Muslim demi ambisi akademis dan politik.

Snouck sendiri tidak pernah memberikan jawaban yang jelas. Dalam surat-suratnya kepada teman dekat, ia kadang menulis dengan nada yang penuh empati terhadap Islam, kadang dengan nada kritis yang tajam. Ia seperti seseorang yang terjebak di antara dua dunia, tidak sepenuhnya menjadi bagian dari salah satunya, tetapi juga tidak bisa melepaskan diri dari keduanya.

Pada tahun 1887, ia diangkat sebagai dosen di Universitas Leiden untuk mata kuliah “Institutions of Islam” (Institusi-Institusi Islam). Ia juga tetap menjadi konsultan bagi Kementerian Urusan Kolonial Belanda. Dan pada tahun 1888, ia mengajukan proposal ambisius kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda: ia ingin melakukan penelitian lapangan tentang Islam di Jawa dan Sumatera.

Proposal itu diterima.

Pada 1 April 1889, Christiaan Snouck Hurgronje, sang Haji Belanda, meninggalkan Leiden untuk selamanya. Ia naik kapal menuju Batavia, ibu kota Hindia Belanda. Ia tidak tahu saat itu bahwa ia tidak akan pernah kembali ke Belanda sebagai orang yang sama. Di Hindia Belanda, ia akan menikah dua kali dengan perempuan pribumi, memiliki anak-anak yang tidak akan pernah diakuinya secara publik, dan menjadi arsitek dari strategi kolonial yang akan menentukan nasib jutaan Muslim Indonesia.

Perjalanan dari mimbar ke mihrab telah berakhir. Kini dimulai perjalanan yang lebih gelap dan lebih kompleks, perjalanan dari ilmu menuju kekuasaan.

Epilog Seri 1: Pertanyaan yang Belum Terjawab

Siapakah Christiaan Snouck Hurgronje pada tahun 1889 itu? Apakah ia seorang ilmuwan yang tulus mencintai Islam tetapi terjebak dalam sistem kolonial? Apakah ia seorang mata-mata yang lihai menggunakan agama sebagai kedok? Atau apakah ia seperti yang mungkin lebih mendekati kebenaran seorang manusia yang kompleks, yang mampu mencintai dan mengkhianati pada saat yang bersamaan?

Dalam surat-suratnya, Snouck pernah menulis bahwa Islam adalah “agama yang indah jika dipahami dengan benar”. Tetapi ia juga menulis bahwa Islam adalah “ancaman bagi peradaban Eropa jika dibiarkan tumbuh tanpa kontrol”. Dua kalimat itu bukan kontradiksi baginya, keduanya benar dalam sistem pemikirannya yang rumit.

Yang pasti, ketika kapalnya berlabuh di pelabuhan Batavia pada pertengahan 1889, Snouck Hurgronje bukan lagi sekadar akademisi. Ia adalah seorang ahli strategi, seorang yang memahami Islam dari dalam, dan seorang yang akan menggunakan pengetahuan itu untuk tujuan-tujuan yang jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya daripada sekadar menulis buku.

Di Jawa, ia akan menemukan cinta. Di Aceh, ia akan menemukan perang. Dan dalam perjalanan itu, ia akan meninggalkan warisan yang hingga kini masih kita rasakan, warisan yang penuh dengan cahaya pengetahuan, tetapi juga bayangan pengkhianatan.(*)

Yogyakarta, 7 Januari 2026

*Penulis adalah Arkeolog UGM

Bersambung ke Seri 2: Jawa, Cinta, dan Jaringan Kekuasaan (1889-1891)

DAFTAR PUSTAKA

Benda, Harry J. “Christiaan Snouck Hurgronje and the Foundations of Dutch Islamic Policy in Indonesia.” The Journal of Modern History 30, no. 4 (1958): 338–347.

Hurgronje, Christiaan Snouck. Mekka in the Latter Part of the 19th Century. Translated by J.H. Monahan. Leiden: E.J. Brill, 1931. (Edisi asli dalam bahasa Belanda, 1888-1889)

Hurgronje, Christiaan Snouck. Verspreide Geschriften (Collected Writings). The Hague: Martinus Nijhoff, 1923.

Koeningsveld, P. Sj. van. “Perkawinan, Status, dan Politik Kolonial di Hindia Belanda.” Dalam Snouck Hurgronje dan Islam, diedit oleh W.A.L. Stokhof. Bandung: Girimukti Pasaka, 1989.

Laffan, Michael Francis. The Makings of Indonesian Islam: Orientalism and the Narration of a Sufi Past. Princeton: Princeton University Press, 2011.

Pratt, Mary Louise. Imperial Eyes: Travel Writing and Transculturation. 2nd ed. London: Routledge, 2008.

Said, Edward W. Orientalism. New York: Pantheon Books, 1978.

Steenbrink, Karel A. Dutch Colonialism and Indonesian Islam: Contacts and Conflicts 1596–1950. Amsterdam: Rodopi, 1996.

Van der Meulen, Daniel. Ik stond erbij: Herinneringen van een Arabist in Oost en West. Baarn: Bosch & Keuning, 1965.

HMMCJ Wirtjes XVI. “Warisan Monumental Christian Snouck Hurgronje kepada Umat Islam Indonesia.” Blog pribadi, 17 Juni 2025.

By IK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *